Semakin Dekat dengan Pembaca

Tujuh Bayi Meninggal Tiap Bulan

Dinkes: Mayoritas Lahir Prematur

KABUPATEN BLITAR – Kelahiran prematur harus dihindari oleh ibu hamil (bumil). Bukan hanya berisiko stunting, prematur jadi penyebab tingginya angka kematian bayi (AKB) di Bumi Penataran. Bahkan, sepanjang 2022 lalu, rerata tujuh bayi meninggal tiap bulan. Hal ini diungkapkan Subkoordinator (Subko) Kesehatan, Keluarga, dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Etti Suryani.

Menurutnya, kasus kematian bayi paling banyak dipicu kelahiran prematur alias tidak tepat waktu. Dari beberapa kejadian yang dia amati, kematian bayi prematur karena kondisi kesehatan yang tidak stabil.

“Sepanjang 2022 ada 85 bayi usia nol sebelum 1 tahun yang meninggal dunia. Mayoritas prematur, karena kemungkinan hidup lebih rendah,” ungkapnya kemarin (21/1).

Untuk diketahui, prematur adalah kelahiran yang terjadi sebelum memasuki pekan ke-37 alias lebih awal dari hari perkiraan lahir (HPL). Kondisi ini terjadi ketika kontraksi rahim memicu terbukanya leher rahim (serviks) sehingga membuat janin memasuki jalan lahir.

Fenomena prematur, kata Etti, dipicu dari sejumlah faktor. Misalnya, kehamilan pada usia muda, preeklamsia, eklampsia, hipertensi, hingga diabetes. Hal ini berdampak pada turunnya kesehatan bumil dan bayi yang dikandung.

“Padahal, bumil harus rutin cek kesehatan. Untuk antisipasi adalah meminimalisasi stres dan mengontrol penyakit kronis yang diderita selama masa kehamilan,” terangnya.

Etti menyebut, 85 kasus AKB pada 2022 lebih rendah ketimbang 2021 lalu yang mencapai 110 kematian bayi. Sementara pada 2020, kematian bayi di Kabupaten Blitar justru lebih tinggi dengan 120 kasus. Selain prematur, kematian pada bayi juga disebabkan kondisi bumil yang mengalami eklampsia atau kejang.

Untuk mengantisipasi kelahiran prematur yang marak mengancam keselamatan bayi, lanjut dia, ada sejumlah upaya pencegahan yang perlu dilakukan. Misalnya, menjaga jarak kehamilan, menghindari asap rokok dan minuman alkohol, berat badan ideal, dan rutin periksa kehamilan.

Nah, selama masa kehamilan, idealnya bumil wajib cek kesehatan sebanyak enam kali. Dari jumlah itu, dua pemeriksaan harus melibatkan dokter kandungan. Etti mengaku, frekuensi cek kehamilan ini lebih banyak jika dibandingkan pada 2020 lalu yang hanya empat kali selama mendandung.

“Penting bagi ibu agar mengurangi beban pikiran dan intens cek kandungan. Bukan hanya penting bagi bumil, tetapi juga mengetahui kondisi janin,” tandasnya. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.