Semakin Dekat dengan Pembaca

Usaha Ikan Hias Yang Menjanjikan, Penuhi Omzet Milyaran Rupiah

MATLAUL NGAINUL AZIZ, Kota, Radar Tulungagung – Siapa tidak terpesona ketika melihat indahnya ikan hias di dalam akuarium. Itulah yang membuat Devis Brimanta, memilih untuk fokus menjalani bisnis ikan hias. Dia kini memiliki omzet hingga miliaran.

Devis, sapaan akrabnya, menceritakan sebelum memulai bisnis ikan hias, sempat kerja merantau di Kalimantan. Dari perantauannya tidak berlangsung lama lantaran tidak bisa berada jauh dari keluarga. “Dulu selepas lulus sekolah menengah atas (SMA) tahun 2013 sempat merantau ke Kalimantan. Bertahan sekitar lima bulanan. Karena kangen sama rumah,” jelasnya kemarin (16/1).

Anak kedua dari empat bersaudara tersebut mengaku, setelah dari perantauan kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya yang sempat terputus. Pada masa itu, dia mulai belajar berbisnis ikan hias dan menyisihkan sedikit demi sediki modal untuk memulai berdagang. “Setelah itu saya melanjutkan kuliah, sembari belajar sedikit demi sedikit ilmu untuk berbisnis ikan hias,” ucapnya.

Selepas kuliah, tepatnya sekitar akhir tahun 2019, dia memulai bisnis ikan hias untuk pertama kali. Tak berselang lama, musim pagebluk pandemi Covid-19 mulai masuk ke Tulungagung. Namun meski dihajar pandemi, bisnis ikan hias justru berada pada puncaknya. “Saat pandemi itu harga ikan hias sedang baik-baiknya, pendapatan bisa berkali-kali lipat. Ikan hias jenis apa saja pasti laris manis,” paparnya.

Pria kelahiran tahun 1995 tersebut mengaku, sempat mengirim ikan hias sebanyak delapan kali dalam satu bulan, dengan nilai setiap pengiriman sekitar Rp 40 juta.

Masa itu merupakan masa panennya para pembudi daya ikan maupun pedagang ikan hias. Bahkan omzet dari bisnis ikan hias yang dilakoni, menyentuh angka Rp 2 miliar (M) dalam satu tahun. “Meskipun sedikit terkendala dalam mobilitas, tapi alhamdulillah pengiriman ikan hias masih bisa dilakukan. Walau biaya pengiriman membengkak. Omzet tersebut kotor,” ungkapnya.

Kematian ikan menjadi risiko mutlak bagi pebisnis ikan hias. Ada beberapa faktor penyebabnya. Termasuk cuaca, jamur ikan, dan suhu. “Ikan-ikan dengan harga per ekornya yang lumayan mahal tentu harus dirawat dengan baik, agar tidak mati. Misal ikan chana dan koi. Selain itu sepinya pasar sama harga anjlok,” tuturnya.

Meski bisa dikatakan musim ikan hias telah berlalu, dia memilih untuk tetap berbisnis ikan hias. Berbisnis ikan hias dapat dilakukan sembari menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga. Kini nilai dalam setiap pengiriman ikan hias masih relatif tinggi, berkisar Rp 25 juta dalam satu kali pengiriman. “Kalau sekarang sekitar Rp 25 juta. Tidak pernah terpikirkan untuk berhenti berbisnis ikan hias, justru ingin bagaimana caranya mengembangkan bisnis ini,” ucapnya.

Dia lebih dari tiga tahun melakoni bisnis ikan hias ini. Devis telah memiliki mangsa pasar hampir di kota-kota besar Jawa Timur (Jatim), mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan.

Dia mengaku, tren ikan hias akan tetap eksis selagi pesona dari ikan hias masih memikat mata. “Kirim ke Surabaya setiap minggu. Tidak akan surut, bisnis ini,” tutupnya. (*/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.