Semakin Dekat dengan Pembaca

Usik Kenyamanan, Knalpot Brong Digaruk, Sementara, Polisi Hanya Beri Teguran

KABUPATEN BLITAR – Kesadaran akan pentingnya tertib berkendara di Bumi Penataran tampaknya perlu dimaksimalkan. Buktinya, masih banyak pengendara motor yang mengenakan knalpot tak sesuai spesifikasi. Puluhan knalpot bising hasil penertiban tahun ini pun berakhir di mesin gerinda.

Kasatlantas Polres Blitar AKP Kadek Aditya Yasa Putra mengatakan, barang bukti tersebut paling banyak berasal dari lokasi ajang balap liar. Misalnya, di Kesamben, Talun, Gandusari, hingga jalur lintas selatan (JLS). Ajang balap liar itu praktis meresahkan kenyamanan warga.

“Jumlahnya sekitar 37 yang kami amankan. Ini kami musnahkan karena tidak sesuai dengan standar motor,” ujarnya di Mapolres Blitar, kemarin (30/12).

Barang bukti tersebut, kata Kadek, paling banyak didapat dari anak muda. Utamanya yang kerap melakukan balap liar. Ironisnya, lanjut dia, para pemilik kendaraan dengan kenalpot brong ini belum memiliki lisensi mengemudi alias SIM. “Kalaupun punya (SIM) juga bukan berarti boleh balapan,” sambungnya.

Dia menambahkan, penertiban itu akan masif dilakukan selama akhir tahun hingga memasuki tahun baru. Selain menjaga kondusivitas, tertib berkendara juga memperkecil potensi kecelakaan. Pasalnya, angka kecelakan di Kabupaten Blitar tahun ini masih cukup tinggi. Yakni, sebanyak 407 peristiwa. Rinciannya, 104 kasus laka meninggal dunia, 15 kasus luka berat, dan luka ringan sebanyak 482 kali. Kerugian materiil yang ditimbulkan mencapai sekitar Rp 482 juta.

“Yang melanggar, kami tindak. Namun, melalui teguran. Tahun ini kami mengeluarkan surat teguran cukup banyak dengan 63.830 teguran,” jelasnya.

 

(Dok. MOCHAMMAD LUKI AZHARI/RADAR BLITAR)

 

Selain itu, tahun ini polisi juga mengamankan sebanyak 160 budak narkoba dari total 153 kasus penyalahgunaan dan peredaran. Kasatresnarkoba AKP Rokhani menjelaskan, dari jumlah tersebut, kasus peredaran okerbaya dan daftar G paling marak dengan 99 kasus, sedangkan kasus narkotika total 54 kasus.

Transaksi masih didominasi metode ranjau sehingga butuh kejelian saat proses penyelidikan. Pihaknya menyadari kasus narkotika tahun ini masih cukup tinggi. Ironisnya, tak jarang anak muda yang jadi sasaran penyalahgunaan narkoba. “Utamanya menjelang pergantian tahun, kami akan perketat monitoring,” terangnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 114 dan 112 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman minimal 5 tahun dan maksimal 10 tahun penjara. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.