Semakin Dekat dengan Pembaca

Wabah Leptospirosis di Tulungagung Masuk Kriteria KLB

TULUNGAGUNG – Kasus wabah leptospirosis di Tulungagung masuk dalam kriteria kejadian luar biasa (KLB). Penyakit yang ditularkan melalui air seni hewan terinfeksi tersebut diketahui telah menelan korban nyawa. Kasus wabah tersebut telah menjangkit tiga masyarakat Kota Marmer.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Kasil Rokhmat mengatakan, hingga kini belum ditemukan klaster wabah leptospirosis atau penyakit berasal dari bakteri yang disebar melalui air seni hewan terinfeksi. Diketahui, temuan baru dari wabah leptospirosis dari wilayah Desa Pandansari, Kecamatan Ngunut; Desa Dono, Kecamatan Sendang; dan di Kecamatan Bandung. “Sudah kami lakukan pemeriksaan di wilayah itu, ditemukan dua yang terinfeksi leptospirosis. Sekarang sudah sembuh dan tidak ada temuan baru di sekitar wilayah itu,” jelasnya kemarin (17/1).

Dengan hasil tersebut, dia menegaskan, penularan wabah leptospirosis pada wilayah tersebut telah terkendali. Namun, masih dapat dimungkinkan adanya klaster baru dari wabah leptospirosis. Sebab, kini tengah masuk musim penghujan. “Ini kan masih musim hujan, jadi ya tidak menutup kemungkinan akan ada klaster-klaster baru,” ucapnya.

Diketahui pada tahun-tahun sebelumnya, kasus wabah leptospirosis belum pernah terjadi di Tulungagung. Mengetahui hal tersebut, wabah leptospirosis tergolong sebaran penyakit yang mendapatkan sorotan. “Tahun sebelumnya kan tidak ada kasus leptospirosis dan sekarang ada. Ya termasuk kejadian yang luar biasa. Sorotan itu mengamati apakah proses surveilans, penanganan pasien, dan pencegahan itu dimonitoring oleh pihak provinsi maupun pusat,” paparnya.

Meski wabah leptospirosis memenuhi kriteria KLB, tetapi penentuan keputusan tersebut bergantung pada kepala daerah atau Bupati Tulungagung.

Menurut dia, hingga kini Bupati Tulungagung belum memutuskan bahwasanya wabah leptospirosis berstatus KLB. “Karena ternyata klasternya berhenti-berhenti dan bisa diatasi. Kalau kepala daerah memperhatikan itu kan warning-nya menjadi luar biasa, ada sektor-sektor yang banyak dipertimbangkan,” ungkapnya.

Kemudian, untuk upaya mencegah penularan wabah leptospirosis ini, pihaknya melakukan surveilans. Artinya, ketika ditemukan adanya kasus, pihaknya melakukan penelitian pada lingkungan tersebut dan mengambil sampel penularan. “Sudah dilakukan semua upaya itu. Termasuk juga ke hewan ternak yang ada di sana, seperti tikus yang ada di wilayah-wilayah wabah itu,” ucapnya.

Berdasarkan penelitian kasus, penularan dari ketiga kasus wabah leptospirosis di Tulungagung cukup beragam. Diketahui, kasus leptospirosis di wilayah Kecamatan Ngunut dan Sendang berasal dari hewan ternak. Kemudian, kasus pada wilayah Bandung berasal dari tikus. “Tidak harus selalu memberantas sarang tikus. Yang terpenting, makanan dan tangan kita tidak terjamah oleh kotoran tikus atau hewan yang rawan,” pungkasnya. (mg2/c1/din)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.