Semakin Dekat dengan Pembaca

Warna Sama, Pelatih SMPN 3 Kota Blitar Pinjam Jersey SSB

KOTA BLITAR –  Liga pelajar telah usai. Tim sepak bola SMPN 3 Kota Blitar keluar sebagai juara. Tim itu berhasil mempertahankan Piala Wali Kota Cup tersebut. Tentu itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan untuk meraih kemenangan di kompetisi tahunan antarpelajar itu.

Rintik hujan mengiringi perjalanan Jawa Pos Radar Blitar menuju SMPN 3 Kota Blitar kemarin (6/10). Memasuki gerbang, sekolah di Jalan Ciliwung itu tampak ramai. Beberapa siswa berseragam batik hijau satu per satu meninggalkan sekolah. Di ruang tamu sekolah, terlihat dua orang siswa sedang berbincang dengan seorang pria. Mereka merupakan anggota tim sepak bola yang menjuarai gelaran Liga Pelajar Wali Kota Cup beberapa waktu lalu.

Tiga bulan sebelum kompetisi, pembina ekstrakulikuler sepak bola mengadakan seleksi untuk persiapan pertandingan. Tak mudah untuk menyampaikan adanya pemberitahuan seleksi pembentukan tim. Akhirnya, terbentuklah tim yang sebagian besar merupakan siswa tingkat VIII dan IX. “Kendalanya itu ada dua. Pertama, untuk mengumpulkan siswa susah. Kedua, komunikasi tentang seleksi tersebut,” ujar pembina ekstrakulikuler sepak bola SMPN 3 Kota Blitar, M. Ahmad Dien.

“Ada yang bilang tak ada seleksi. Mungkin anak-anak tidak mendengarkan saat ada informasi,” imbuhnya.

Proses pembinaan tim tidak mudah. Pasalnya, pelatih perlu menyusun jadwal latihan yang tepat. Sebab, para siswa juga masih punya kesibukan akademik. Jangan sampai bentrok.

Mutho, sapaan M. Ahmad Dien, menceritakan, meski pertandingan berjalan alot lantaran banyak tim kuat, tetapi tetap ada kejadian lucu. Salah satunya saat SMPN 3 Kota Blitar melawan SMPN 4 Kota Blitar dalam laga semifinal. Warna jersey yang dipakai kedua tim itu sama. Itu membuat Mutho sempat kelimpungan.

Dia lantas berinisiatif untuk meminjam jersey salah satu SSB. Namun, jersey itu baru bisa diambil siang hari. Itu membuat Mutho terlambat datang di lapangan. “Kita (tim SMPN 3 Kota Blitar dan SMPN 4 Kota Blitar, Red) sama-sama memakai jersey warna hijau-hitam. Akhirnya saya meminjam jersey warna merah-merah ,” kata pria berjenggot itu.

Bukan hanya itu. Tim ini juga kehilangan dua sosok pemain penting di laga semifinal. Sebab, satu stoper dan satu gelandang mendapatkan akumulasi kartu kuning. Mereka tak dapat bermain. Meski begitu, tim SMPN 3 Kota Blitar mampu menekuk lawannya. Selanjutnya, maju ke babak final.

Di laga puncak, tim tersebut ditunggu MTsN 1 Kota Blitar. Waktu normal 90 menit ternyata tak cukup menentukan pemenang dalam pertandingan tersebut. Akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti. Tim SMPN 3 Kota Blitar akhirnya berhasil unggul dengan skor 11-10.

Meski sudah meraih kemenangan, Mutho berpesan kepada anak asuhnya agar tetap mengutamakan pendidikan akademik. Itu penting demi masa depan. ”Sepak bola bukan segalanya, pedidikan yang utama. Kalau bisa diimbangi pendidikan dengan bola lebih bagus. Tapi, kalau cuma sepak bola aja mending ndak usah, intinya dahulukan akademik dan harus seimbangkan keduanya,” jelasnya.

Performa garang tim tersebut tak lepas dari sosok striker andalan, Nanda Rafi Aditya. Remaja kelas IX itu menjadi top scorer liga pelajar tahun ini. Torehan delapan gol cukup untuk membuktikan garangnya di depan gawang lawan. “Itu akumulasi gol sejak awal hingga akhir kompetisi,” ungkap Nanda.

Remaja berusia 15 tahun itu mengaku tak berfokus menjadi top scorer. Baginya, tujuan terpenting adalah untuk mencetak gol di setiap pertandingan. Dengan begitu, kans untuk memenangi laga juga meningkat. “Pokoknya saya pengin cetak gol. Bola harus masuk gawang lawan,” sebut warga Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon itu.

Lantaran semua pemain masih berstatus pelajar, maka harus pandai mengatur waktu. Yakni, antara jadwal latihan dan sekolah. Terlebih kini jadwal kegiatan akademik sudah kembali normal pascapandemi. “Lumayan susah membagi waktu. Tapi lama-lama terbiasa,” ujar Vino Romeo Saputra, kapten tim.

“Pagi sekolah terus pulang, makan, istirahat, lanjut sore latihan. Pulang latihan istirahat sebentar lalu belajar,” imbuhnya.

Semangat dan berbagai motivasi dari kapten tim selalu diberikan setiap hari. “Tetap fokus, dan kami membawa harga diri di depan suporter, harus menang untuk SMPN 3 Blitar,” jelas remaja yang tinggal di Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul itu.

Tahun depan, Vino maupun Nanda tidak akan membela tim ini. Keduanya bakal melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Karena itu, Vino berpesan kepada para junior agar mempertahakan prestasi SMPN 3 Kota Blitar, khususnya di bidang sepak bola. “Harus tetap semangat dan pertahankan kemenangan Spanega (julukan SMPN 3 Kota Blitar) yang menjadi juara 1 seperti 2021 dan 2022 lalu,” tandasnya. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.