Semakin Dekat dengan Pembaca

Waspada, Eklamsia Picu Kasus Kematian pada Bumil, Segini Jumlah Kasus di Kabupaten Blitar

KABUPATEN BLITAR – Belasan ibu hamil (bumil) di Bumi Penataran meninggal dunia sepanjang 2022 lalu. Eklamsia menjadi salah satu pemicunya. Sayang, belum diketahui pasti penyebab kelainan pada masa kehamilan yang berujung pada kematian bumil ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar dr Christine Indrawati mengatakan, jumlah angka kematian ibu (AKI) perlu mendapat perhatian serius. Terlebih, selama periode tahun lalu, AKI tercatat sekitar 17 kasus. Eklamsia menjadi yang paling banyak dialami bumil, yakni dengan lima kasus.

“Selain eklamsia, kematian ibu hamil juga disebabkan akibat Covid-19, pendarahan, serta infeksi saat hamil, bersalin, dan nifas,” ujarnya, kemarin (16/1).

Untuk diketahui, eklamsia merupakan komplikasi pada bumil. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kejang sebelum, selama, atau setelah persalinan. Umumnya, kegawatdaruratan ini bisa terjadi usai bumil mengalami preeklamsia.

Christine menambahkan, hingga kini pemicu preeklamsia dan eklamsia pada bumil belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini disinyalir karena kelainan bentuk dan fungsi plasenta. Untuk itu, layanan ultrasonografi (USG) dan pemeriksaan secara rutin perlu dilakukan.

Meski kasus ini jarang terjadi, dia menilai penderita harus segera mendapat penanganan medis. Sebab eklamsia dapat membahayakan nyawa bumil dan janinnya. “Kondisi ini biasanya terjadi saat usia kehamilan mencapai 20 minggu atau lebih,” sambungnya.

 

(Dok Grafis. HANDANA/RADAR BLITAR)

 

Dalam benerapa kasus, sambung dia, eklamsia ditandai dengan kejang yang terjadi sebelum, selama, atau setelah persalinan. Sementara preeklamsia, biasanya ditandai dengan tekanan darah lebih dari 140/90 mm Hg, urine mengandung protein, serta disertai dengan pembengkakan di telapak kaki.

Christine berharap bumil rutin kontrol ke dokter selama masa kehamilan. Selain itu juga menjaga berat badan agar tetap ideal, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol. “Juga harus mengonsumsi suplemen tambahan sesuai anjuran dokter,” tandasnya.

Diketahui, saat ini ada enam dari 24 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Blitar tercatat belum dilengkapi layanan USG. Di antaranya, Puskesmas Kanigoro, Wlingi, Slumbung, Garum, Sanankulon, dan Puskesmas Bacem. Padahal fasilitas ini sangat dibutuhkan pada bumil. Rencanannya, pengadaan USG akan diajukan tahun ini.

Selain karena eklamsia, Covid-19 masih menjadi momok menakutkan yang menyumbang kasus AKI. Tahun lalu, dinkes mendata ada tiga bumil yang meninggal dunia akibat terpapar virus ini. Rata rata yang bersangkutan belum menerima vaksin Covid-19.

Kendati begitu, AKI dipicu Covid-19 tahun lalu lebih rendah jika dibandingkan dengan kasus kematian bumil periode 2021 yang mencapai 69 kasus. Dari jumlah tersebut, 56 di antaranya meninggal dunia akibat terjangkit wabah pandemi. (luk/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.