Semakin Dekat dengan Pembaca

Waspada Jajanan Ciki Ngebul

 

KOTA BLITAR – Masyarakat di Bumi Penataran harus waspada terhadap jajanan kekinian, ciki ngebul. Pasalnya, di balik tampilannya yang menarik disertai uniknya kepulan asap, camilan ini diduga dapat memicu keracunan lantaran mengandung nitrogen cair. Hal ini diungkapkan Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati, kemarin (11/1).

dr Christine Indrawati
Kepala Dinkes Kabupaten Blitar

“Kabupaten Blitar belum ada laporan kejadian ciki ngebul. Namun, harus antisipasi saja, kalau mau jajan yang aman-aman,” ujarnya kemarin (11/1).

Menurutnya, jajanan tersebut termasuk salah satu panganan yang mendapat perhatian dari pemerintah karena mengandung nitrogen cair dan dapat memicu keracunan. Itu sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Nomor SR.01.07/III.5/67/2023 yang dirilis Selasa (3/1) lalu. “Dalam surat tersebut, dinkes diminta segera melaporkan temuan terindikasi keracunan makanan mengandung nitrogen cair,”katanya.

Secara ilmiah, lanjut dia, nitrogen bukan bahan yang tepat untuk dikonsumsi. Bahkan, zat kimia ini berpotensi merusak organ dalam. Kendati begitu, Christine belum mengetahui apakah ada porsi nitrogen yang bisa dicampurkan ke bahan makanan. Itu karena BPOM juga belum mengeluarkan rilis terkait penggunaan nitrogen cair untuk konsumsi.

Dia menambahkan, terkait kasus keracunan siswa SD di Jawa Barat beberapa waktu lalu, diduga memiliki riwayat mengonsumsi ciki ngebul dengan kandungan nitrogen cair. Menurutnya, ada luka pada bagian dalam lambung. Hal ini diduga imbas mengonsumsi jajanan bernitrogen.

“Istilah medisnya iritasi. Berarti nitrogen itu bersifat erosi yang merusak lapisan dalam lambung. Itu yang menyebabkan luka dan bikin sakit,” terangnya.

Pascadugaan keracunan hingga menjadi atensi nasional, sambung dia, Kemenkes tidak menetapkan peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa (KLB). Namun, Kemenkes menegaskan bahwa terjadi peningkatan kasus dalam penggunaan nitrogen cair yang bersifat lokal.

Dalam surat edaran tersebut, Kemenkes juga memaparkan, jika ada kasus keracunan dengan riwayat nitrogen cair, maka harus segera dirujuk ke fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) hingga rumah sakit. Sejalan dengan hal itu, dinkes diminta terus memantau dan melaporkan temuan tersebut.

Disinggung apakah ada larangan mengonsumsi jajanan berasap itu, Christine tak bisa memastikan. Itu karena dinkes tidak memiliki dasar untuk tidak mengizinkan. “Kami juga tidak berani melarang. Sifatnya waspada dan melanjutkan SE Kemenkes ke fasyankes ataupun klinik, dan rumah sakit,” tandasnya.

Untuk diketahui, dirilisnya SE tersebut bukan tanpa sebab. Rupanya, itu buntut dari insiden keracunan yang terjadi November tahun lalu. Beberapa siswa SD di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dilaporkan keracunan jajanan berasap nitrogen cair.

Mereka mengalami mual-mual, muntah, hingga begah perut. Bahkan, satu di antaranya sempat menjalani operasi. Kondisi mereka pun stabil usai beberapa hari menjalani perawatan medis. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.