Semakin Dekat dengan Pembaca

Waspada, LSD Menghantui Peternak Sapi di Blitar

KOTA BLITAR – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Bumi Penataran mulai melandai. Kendati begitu, masih ada ancaman penyakit lain yang mesti diwaspadai oleh peternak. Yakni, lumpy skin disease (LSD) alias penyakit kulit.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupatan Blitar, Nanang Miftahudin mengatakan, beberapa pekan terakhir sudah tidak ada penambahan kasus PMK. Sejalan dengan hal itu, vaksinasi PMK juga terus dilakukan. “Update terakhir, realisasi vaksin PMK ada sekitar 76.790 dosis yang sudah disuntikkan,” katanya.

Mengacu pada laporan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, ada 7.595 kasus PMK dan 7.553 di antaranya telah dinyatakan sembuh. Sebanyak 35 ekor sapi mati, 6 ekor dipanen paksa, dan 1 dalam kondisi sakit. Sementara itu, tidak ada lagi laporan masuk perihal kasus yang menyerang ruminansia ini sejak minggu ketiga November lalu.

Menurut Nanang, vaksinasi yang secara masif telah dilakukan juga menjadi salah satu faktor pengendalian penyakit ini. Meskipun kelangkaan vaksin sempat menjadi kedala dalam penanganan penyakit. “Dulu pemerintah hanya belanja sekitar 3 juta dosis, tapi karena masuk kategori darurat, ada tambahan pengadaan vaksin yang cukup siginifikan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” ujarnya.

Meski kasus PMK sudah lumayan terkendali, bukan berarti kini para peternak bisa lebih bersantai. Sebab, muncul kasus anyar yang hingga kini juga menjadi perhatian pemerintah. Yakni, LSD alias penyakit kulit pada sapi.

Pria berkacamata itu mengatakan, kasus ini belum ditemukan di Bumi Penataran. Kendati begitu, potensi kasus sangat besar. Sebab, penyakit ini sudah ditemukan di daerah Jawa, tepatnya di Jawa Tengah. “Saat ini pemerintah masih terus berupaya melakukan pengadaan vaksin LSD ini,” jelasnya.

Sejalan dengan hal itu, lanjut Nanang, pihaknya berharap masyarakat mawas diri, melakukan upaya pencegahan secara mandiri. Misalnya, membatasi mobilitas ternak serta memastikan kandang dalam kondisi steril. “Penyemprotan disinfektan harus rutin dilakukan. Tidak hanya ternak, tapi sarana pengangkut ternak hingga pakan. Jika ada tanda-tanda penyakit harus segera dilaporkan agar tidak menyebar dan memperparah kasus di Blitar,” tandasnya. (hai/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.