Semakin Dekat dengan Pembaca

Waspadai Masih Awal Tahun Gejala Chikungunya Merambah di Tulungagung

KOTA, Radar Tulungagung – Masih di awal tahun, jumlah kasus penderita gejala chikungunya menyentuh angka 51 kasus. Bertambahnya kasus itu lantaran adanya laporan pasien gejala penyakit tersebut di Desa Pulosari, Kecamatan Kauman, dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Ngunut. Diketahui terdapat 16 kasus di wilayah tersebut, setelah 35 kasus gejala chikungunya teratasi di Desa Gilang, Kecamatan Ngunut.

Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Didik Eka mengatakan, kasus chikungunya muncul kali pertama pada Januari 2023 ini di Desa Gilang, Kecamatan Ngunut. Diketahui, dari 35 sampel, 9 di antaranya positif virus chikungunya. “Kita kendalikan wabah penyakit chikungunya ini agar tidak meluas ke wilayah-wilayah lain,” jelasnya kemarin (19/1).

Mengetahui hal tersebut, dinkes melakukan upaya pengobatan massal, penyuluhan, larvasidasi, melakukan gerakan massal pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan fogging. Dengan melakukan upaya tersebut, diketahui tidak ditemukan tambahan kasus di desa setempat. Kendati demikian, satu minggu kemudian pihaknya mendapatkan laporan adanya temuan gejala chikungunya baru di wilayah berbeda. “Namun satu minggu kemudian, muncul laporan bahwasannya terdapat dua desa yaitu Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman ada 10 kasus, dan Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut ada 6 kasus. Mereka diketahui mengalami gejala chikungunya dan tiga di antaranya positif,” ucapnya.

Dimungkinkan, selama Januari ini, jumlah pasien chikungunya dapat bertambah. “Di Pulosari dan Jatimulyo itu kan masih berlangsung, jadi kemungkinan bisa bertambah. Kalau yang di Desa Gilang kan sudah terkendali. Di Jatimulyo itu ada dua RT dan Pulosari ada satu RT,” paparnya.

Kemudian untuk upaya pengendalian chikungunya pada wilayah tersebut, dinkes masih mengoordinasikan kepada pihak desa untuk melakukan fogging asap.

Menurut dia, kini masyarakat tengah melakukan gerakan massal PSN. “Jadi, masyarakat di wilayah itu melakukan PSN dulu. Baru kemudian kita lakukan fogging. Masih berkoordinasi dengan pihak desa. Kalau bisa tidak lebih dari satu minggu, dua hingga tiga hari baru kita fogging,” ungkapnya.

Diketahui, virus chikungunya ditularkan atau disebarkan oleh vector yang sama dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yaitu melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Berbeda dengan kasus DBD, hingga kini belum ditemukan kasus kematian akibat penyakit chikungunya.

Gejala penyakit chikungunya meliputi demam dan nyeri sendi yang datang secara tiba-tiba. Tidak hanya itu, gejala chikungunya juga ditandai dengan nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, dan ruam serta gatal di tubuh. “Gejalanya hampir mirip dengan DBD. Bedanya, ruamnya itu disertai gatal-gatal. Bahkan, jika penderitanya berusia lanjut atau lansia sampai tidak bisa berjalan,” tutupnya. (mg2/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.