Semakin Dekat dengan Pembaca

Witoyo Cetak Generasi Petani Millenial, Rekam Aktivitas Bertani Sembari Bagikan Tips

TRENGGALEK – Mengolah lahan, pembibitan, proses tanam, merawat, hingga panen, mungkin hal itulah yang menjadi kegiatan rutin bagi seorang petani. Sehingga setiap harinya pasti, mereka disibukkan dengan berbagai kegiatan terkait hal tersebut. Karenanya sebagian orang menganggap hal itu sebagian kegiatan yang membosankan, hingga jarang generasi milenial alias anak muda yang mau menekuninya. Namun hal tersebut coba ditepis oleh Witoyo lantaran bertani merupakan kegiatan yang mengasyikkan.

Itu terlihat ketika melakukan aktivitas bertani di ladang miliknya yang tidak jauh dari rumah di wilayah Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan selain peralatan bertani seperti cangkul, sabit dan sebagainya, dia juga menyiapkan peralatan elektronik layaknya seorang artis. Sebab saat-saat tertentu ketika pergi ke sawahnya dia membawa kamera, lengkap dengan mikrofon dan peralatan lainnya. Ya itu dilakukan sebab setiap kegiatannya dalam bertani dia selalu melakukan dokumentasi. “Semula saya mendokumentasikan kegiatan ini lewat foto, namun lambat laun atas saran teman akhirnya dilakukan dokumentasi lewat video,” ungkap Witoyo kepada koran ini.

Itu dilakukan karena dirinya ingin mengetahui perkembangan tanamannya setiap masa tanam. Alasannya, untuk mendapatkan hasil yang baik, diperlukan usaha dan kerja keras, serta diperlukan perhatian yang sungguh-sungguh dalam setiap tahapan tumbuh kembang setiap komoditas yang ditanam. Seperti memberikan pupuk yang cukup, pembungkusan buah serta penyiraman sesuai dengan yang diperlukan, hingga membungkus buah jika diperlukan. “Namun untuk itu prosesnya tidak boleh dilakukan sembarangan, sebab dilihat dari kondisi tanaman dan cuaca,” katanya.

Karena itu, melalui dokumentasi tersebut dirinya mencoba memberi pemahaman kepada generasi muda mengenai cara bertani. Sehingga mereka memiliki keinginan untuk menjadi seorang petani, sebab saat ini bisa dikatakan telah krisis petani. Namun dibalik itu semua, pemerintah ingin terus menggenjot peningkatan sektor pertanian. Karena itu perlu dorongan dari seluruh pihak untuk mendorong generasi muda agar mau jadi petani milenial.

Sehingga dalam proses pengambilan video tersebut, diambil seluruh proses penanaman, mulai pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, perawatan, cara memanen, juga cara mengatasi jika terkena semacam penyakit. Sebab tiap jenis tanaman memiliki treatment sendiri dalam proses tersebut. Tujuannya agar panen lebih maksimal juga bertahan lama sampai ke konsumen.

Ini seperti yang dicontohkan ketika memanen cabai merah besar yang saat ini harga di pasar sekitar Rp 10 ribu setiap kilogram. Sebab untuk cara memetik ketika panen berbeda dengan cabai rawit, yaitu untuk cabai merah besar proses memetiknya harus mengangkat berlawanan arah dari tangkai. Sedangkan cabai yang dipanen tidak boleh terlalu merah darah, karena dipastikan setelah dipanen tidak sampai satu hari sudah busuk, sehingga tidak laku jika dijual di pasar.

Karena itu, lebih baik cabai yang dipanen masih ada permukaan yang hijau, sebab dalam proses pengemasan di karung hingga dikirim nanti, warna hijau itu akan berubah menjadi merah. Sedangkan dalam proses memanen, memetik harus benar agar tangkai cabai tidak terpotong. Sebab jika terpotong selain tidak laku juga akan busuk dan bisa merembet ke cabai lainnya di dalam satu kantong. Karena itu jika memanen cabai busuk, lebih baik dipisahkan dengan cabai yang baik.

Sedangkan untuk penyakit yang biasanya ada di cabai kebanyakan adalah antraknosa, atau sering disebut patek. Itu terjadi lantaran pengaruh dari jamur karena curah hujan tinggi. Itu bisa diantisipasi dengan pemupukan menggunakan jenis pupuk yang kandungan kalsium tinggi. “Karena kondisi itu kami sarankan setelah panen sebelum dikemas untuk dikirim wajib di sortir. Hindari cabai yang terlalu matang sebab lebih cepat busuk dan akan menular ke yang lainnya,” imbuh pria 34 tahun ini.

Selain itu dalam proses dokumentasi akan diambil semenarik mungkin, hingga mengalami proses editing sebelum diunggah. Tujuannya agar para generasi muda tertarik untuk bertani setelah melihat unggahan video tersebut. Tak ayal tidak sedikit pelajar yang tertarik untuk bertani setelah melihat video tersebut. Buktinya, tidak sedikit yang datang ke tempatnya untuk melihat langsung cara bertani. “Semoga dengan upaya yang kami lakukan ini semakin banyak generasi muda khususnya di Trenggalek memilih pekerjaan sebagai petani bukan lagi sebagai seorang pegawai,” jelas juara pertama festival gagasan Trenggalek tahun 2019 ini.(*/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.