Table of Contents
Danamon Bekali Pelajar Jambi agar Tak Terjebak Pinjol Ilegal dan Judi Online PT Bank Danamon Indonesia Tbk memperkuat edukasi keuangan kepada generasi muda dengan menyasar pelajar sekolah menengah di Jambi. Melalui kegiatan literasi keuangan di Suria Harapan School, pelajar diajak memahami cara mengatur uang sejak dini sekaligus mengenali berbagai jebakan finansial yang semakin mudah ditemukan melalui telepon pintar, mulai dari investasi ilegal, pinjaman online ilegal, hingga judi online.
Program yang diselenggarakan pada 28 Juli 2026 tersebut melibatkan siswa tingkat SMA, guru, pengelola sekolah, perwakilan Danamon, serta Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jambi. Danamon juga melakukan revitalisasi interior perpustakaan sekolah dengan memberikan rak buku, meja baca, dan sejumlah fasilitas pendukung agar kegiatan literasi tidak berhenti setelah sesi edukasi selesai.
Langkah tersebut terasa relevan karena pelajar sekarang berhadapan dengan layanan keuangan digital jauh lebih awal. Membuka dompet elektronik, melakukan pembayaran melalui QRIS, melihat promosi investasi, menerima iklan pinjaman, atau menemukan promosi perjudian dapat terjadi hanya melalui satu perangkat yang sama.
Literasi Keuangan Dikenalkan Sebelum Pelajar Memiliki Penghasilan Tetap
Mengajarkan pengelolaan keuangan kepada siswa SMA terkadang dianggap terlalu dini karena sebagian besar belum mempunyai pendapatan sendiri. Namun, kebiasaan terhadap uang sebenarnya sudah terbentuk sebelum seseorang menerima gaji pertama.
Pelajar telah berhadapan dengan uang saku, pembelian makanan, langganan aplikasi, permainan digital, transaksi marketplace, sampai keputusan menyimpan atau menghabiskan uang yang mereka miliki.
Ketika keputusan kecil tersebut dilakukan berulang kali, terbentuk kebiasaan yang dapat terbawa ketika jumlah uang yang dikelola semakin besar.
Regional Corporate Officer Danamon Sumatera Wilayah 2, Thamrin Tambunan, menilai literasi keuangan merupakan bekal penting agar generasi muda mampu mengambil keputusan finansial secara lebih bijak. Program edukasi di Jambi diarahkan untuk membantu siswa memahami pengelolaan uang sebelum mereka memasuki periode ketika pilihan finansial menjadi jauh lebih kompleks.
OJK Menempatkan Pelajar sebagai Kelompok Prioritas
Keterlibatan OJK dalam kegiatan tersebut bukan tanpa alasan. Pelajar menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian dalam program peningkatan literasi keuangan.
Deputi Kepala OJK Provinsi Jambi Helmiyani mengatakan masih terdapat jarak antara tingkat penggunaan layanan keuangan dan pemahaman masyarakat terhadap layanan tersebut. Dalam kegiatan Danamon, ia menyebut kesenjangan literasi dan inklusi keuangan masih berada pada kisaran 14 persen.
Data SNLIK 2025 yang dipublikasikan OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46 persen dengan metode keberlanjutan, sedangkan indeks inklusi mencapai 80,51 persen. Artinya, akses dan penggunaan layanan keuangan masih lebih tinggi daripada tingkat pemahaman masyarakat mengenai produk yang digunakan.
Kesenjangan tersebut penting diperhatikan. Seseorang dapat mempunyai rekening, dompet elektronik, aplikasi investasi, atau akses terhadap layanan pembiayaan tanpa memahami secara penuh biaya, risiko, ketentuan, maupun kemungkinan penyalahgunaannya.
“Menurut penulis, kemampuan membuka aplikasi keuangan bukan berarti seseorang sudah memahami keuangan. Literasi baru terlihat ketika pengguna mampu membedakan kebutuhan, risiko, biaya, dan tawaran yang sebaiknya ditolak.”
Pinjol Ilegal Menjadi Salah Satu Materi yang Perlu Dipahami Pelajar
Kemudahan mengajukan pinjaman melalui internet membuat pinjaman online menjadi salah satu persoalan yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Pelaku ilegal dapat menawarkan pencairan cepat dengan persyaratan minimal. Pengguna terkadang hanya diminta mengunduh aplikasi, mengisi data pribadi, kemudian mengunggah sejumlah dokumen.
Kemudahan tersebut dapat menciptakan kesan bahwa meminjam uang merupakan penyelesaian cepat ketika seseorang kekurangan dana.
Masalah menjadi lebih besar ketika layanan yang digunakan tidak memiliki izin. Ketentuan biaya dapat tidak transparan, penagihan dapat dilakukan secara tidak sesuai aturan, sementara data pribadi berisiko disalahgunakan.
Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal mencatat dari Januari sampai Maret 2026 saja terdapat 951 entitas pinjaman online ilegal yang ditemukan dan dihentikan. Dalam periode yang sama, Satgas PASTI juga menghentikan dua penawaran investasi ilegal.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan layanan ilegal belum menghilang meskipun penutupan situs dan aplikasi terus dilakukan.
Penawaran Cepat Sering Menjadi Pintu Masuk
Pelajar perlu memahami bahwa penawaran finansial bermasalah tidak selalu terlihat mencurigakan pada awalnya.
Promosi dapat dirancang dengan bahasa sederhana seperti pencairan cepat, tanpa ribet, cukup menggunakan identitas, atau proses beberapa menit.
Beberapa pelaku juga memanfaatkan pesan pribadi, iklan media sosial, grup percakapan, dan tautan yang disebarkan melalui komentar.
Ketika seseorang sedang membutuhkan uang, janji pencairan cepat dapat terasa lebih menarik daripada membaca seluruh ketentuannya.
Di sinilah literasi keuangan mempunyai peran. Pelajar perlu dibiasakan untuk tidak hanya bertanya berapa uang yang dapat diterima, tetapi juga siapa penyedia layanan, apakah memiliki izin, berapa biaya keseluruhan, kapan kewajiban pembayaran muncul, dan apa konsekuensinya.
Bahkan pinjaman legal sekalipun tetap merupakan kewajiban yang harus dibayar. Legalitas tidak mengubah kenyataan bahwa utang perlu disesuaikan dengan kemampuan.
Judi Online Menjadi Ancaman yang Semakin Dekat dengan Generasi Muda
Selain pinjaman ilegal, judi online menjadi materi penting dalam edukasi Danamon.
Persoalan perjudian kini tidak selalu hadir melalui situs yang tampak seperti kasino. Promosi dapat muncul melalui komentar media sosial, pesan singkat, tautan dalam konten hiburan, akun palsu, atau iklan yang mengarahkan pengguna ke platform tertentu.
Kementerian Komunikasi dan Digital bahkan mencatat lonjakan sekitar 128 persen spam promosi judi online di kolom komentar media sosial pada Juni 2026 dibandingkan rata rata temuan selama Januari sampai Juni. Operasi spam tersebut ditemukan menyebar pada beberapa platform besar.
Anak dan remaja menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.
Komdigi pada Mei 2026 menyebut hampir 200 ribu anak Indonesia telah terpapar judi online, termasuk sekitar 80 ribu anak berusia di bawah 10 tahun.
Angka tersebut memperlihatkan mengapa edukasi tidak dapat menunggu seseorang memasuki usia bekerja.
Perputaran Dana Judi Online Masih Sangat Besar
Ukuran persoalannya juga terlihat dari transaksi yang terdeteksi.
PPATK mencatat nilai perputaran dana judi online sepanjang Januari sampai Juni 2026 mencapai Rp86,82 triliun melalui sekitar 467,32 juta transaksi. Nilai deposit selama periode tersebut mencapai Rp22,05 triliun dalam 226,76 juta transaksi melalui rekening bank, dompet elektronik, dan QRIS.
Pada periode Piala Dunia 2026, PPATK mengidentifikasi deposit terkait perjudian online senilai Rp1,02 triliun hanya dalam periode pertengahan Juni sampai Juli. Jumlah tersebut berasal dari lebih dari enam juta transaksi.
Besarnya jumlah transaksi menunjukkan judi online bukan sekadar persoalan beberapa situs yang dapat ditutup satu per satu.
Ada aliran uang, promosi, rekening, sistem pembayaran, akun digital, serta perilaku pengguna yang saling berhubungan.
Karena itu, penindakan terhadap operator perlu berjalan bersama pendidikan kepada calon pengguna.
Pelajar Perlu Mengerti Cara Judi Online Membentuk Ilusi
Salah satu hal yang perlu dijelaskan kepada pelajar adalah cara perjudian menciptakan kesan bahwa keuntungan mudah diperoleh.
Pengguna dapat menerima kemenangan kecil pada awal permainan. Hasil tersebut dapat mendorong keyakinan bahwa kemenangan berikutnya tinggal menunggu waktu.
Ketika uang mulai berkurang, seseorang dapat terdorong menambah deposit dengan harapan mengembalikan kerugian.
Siklus inilah yang berbahaya.
Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan sekolah, makanan, transportasi, atau tabungan dapat berpindah menjadi deposit berulang.
Ketika uang habis, pengguna dapat mencari sumber tambahan. Pada titik tertentu, pinjaman dapat bertemu dengan perjudian sehingga satu masalah finansial memperbesar masalah lainnya.
Karena itu, edukasi pinjol dan judi online memang tepat diberikan dalam satu pembahasan.
Mengatur Uang Saku Bisa Menjadi Pelajaran Pertama
Literasi keuangan untuk siswa tidak harus dimulai dengan istilah investasi yang rumit.
Uang saku dapat menjadi alat belajar yang paling mudah.
Pelajar dapat membedakan uang untuk kebutuhan harian, tabungan, kegiatan sosial, dan keinginan pribadi. Dari sana mereka mulai mengetahui bahwa satu keputusan membeli sesuatu otomatis mengurangi dana yang tersedia untuk kebutuhan lain.
Kemampuan menunda pembelian juga penting.
Promosi marketplace, permainan digital, makanan, fesyen, serta barang elektronik dapat membuat keinginan terasa seperti kebutuhan mendesak.
Dengan mempunyai batas anggaran, siswa belajar bahwa tidak semua sesuatu yang dapat dibeli harus dibeli.
Pengalaman tersebut nantinya membantu ketika mereka mulai mempunyai rekening sendiri dengan jumlah saldo lebih besar.
Investasi Ilegal Ikut Masuk dalam Edukasi
Danamon dan OJK tidak hanya membahas pinjaman dan perjudian. Pelajar juga diminta waspada terhadap investasi ilegal.
Tema ini semakin relevan karena pembicaraan mengenai investasi sangat mudah ditemukan melalui media sosial.
Seseorang dapat melihat konten saham, aset kripto, emas, valuta asing, maupun berbagai produk lain tanpa pernah mendapat dasar pendidikan keuangan sebelumnya.
Masalah muncul ketika keuntungan besar dipresentasikan seolah dapat diperoleh dengan cepat dan hampir tanpa risiko.
Pelajar perlu memahami bahwa setiap investasi mempunyai risiko. Tingginya potensi keuntungan biasanya tidak dapat dilepaskan dari tingginya kemungkinan kerugian.
Janji keuntungan tetap dalam jumlah besar, tekanan agar segera mentransfer uang, penggunaan rekening pribadi, atau ketidakjelasan izin perusahaan seharusnya menjadi alasan untuk berhenti dan memeriksa.
Program Danamon Mendukung Aturan Literasi OJK
Kegiatan di Suria Harapan School juga menjadi bagian dari implementasi POJK Nomor 3 Tahun 2023 mengenai peningkatan literasi dan inklusi keuangan di sektor jasa keuangan bagi konsumen dan masyarakat.
Aturan tersebut mendorong pelaku usaha jasa keuangan untuk mengambil peran lebih aktif dalam pendidikan masyarakat.
OJK menjelaskan peningkatan literasi dibutuhkan agar masyarakat mampu membuat keputusan keuangan dengan lebih baik dan menggunakan produk sesuai kebutuhan serta kemampuan.
Artinya, tugas industri keuangan tidak berhenti pada menawarkan tabungan, kredit, investasi, atau layanan transaksi.
Masyarakat juga perlu mengetahui karakter produk yang mereka gunakan.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika sebagian besar layanan berpindah ke telepon pintar dan proses transaksi berlangsung tanpa pertemuan langsung dengan petugas.
Perpustakaan Sekolah Ikut Direvitalisasi
Kegiatan Danamon di Jambi tidak berhenti pada seminar.
Perusahaan juga menyerahkan bantuan revitalisasi interior perpustakaan Suria Harapan School. Bantuan mencakup rak buku, meja baca, serta sejumlah sarana pendukung lainnya.
Langkah tersebut menarik karena literasi finansial dan budaya membaca mempunyai hubungan yang cukup dekat.
Seseorang yang terbiasa mencari informasi dari sumber berbeda mempunyai peluang lebih besar untuk mempertanyakan sebuah tawaran sebelum mengambil keputusan.
Ketika menerima promosi investasi, misalnya, pengguna dapat mencari informasi mengenai perusahaan, izin, risiko, dan cara kerjanya.
Kebiasaan memeriksa tersebut jauh lebih aman daripada hanya mempercayai satu video pendek atau testimoni.
Ruang Baca Dibuat Lebih Nyaman
Revitalisasi ditujukan untuk menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman bagi siswa.
Perpustakaan sekolah tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku. Ruang tersebut dapat digunakan untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, mencari referensi, dan mengenal informasi di luar buku pelajaran.
Danamon berharap fasilitas tersebut dapat membantu meningkatkan minat baca dan semangat belajar siswa.
Edukasi satu hari kemudian mempunyai sarana pendukung yang dapat digunakan lebih lama oleh sekolah.
Sekolah Menjadi Tempat Strategis Membangun Kebiasaan Finansial
Mengajarkan finansial di sekolah mempunyai keuntungan karena siswa berada pada tahap ketika banyak kebiasaan masih terbentuk.
Mereka mulai mempunyai kebebasan memilih barang, menggunakan aplikasi sendiri, dan mengikuti tren digital, tetapi sebagian besar masih berada dalam pendampingan orang tua serta guru.
Kesalahan kecil dapat digunakan sebagai pelajaran sebelum nilai uang yang dikelola menjadi lebih besar.
Guru juga dapat membantu menghubungkan pengetahuan finansial dengan aktivitas sehari hari.
Matematika dapat digunakan untuk menghitung bunga dan pertumbuhan dana. Pelajaran ekonomi dapat menjelaskan fungsi bank. Pendidikan digital dapat membahas keamanan akun dan penipuan.
Literasi kemudian tidak berdiri sebagai satu seminar terpisah.
“Menurut penulis, pelajaran keuangan akan lebih kuat ketika siswa dapat menghubungkannya dengan uang yang benar benar mereka gunakan, bukan sekadar angka dalam buku.”
Orang Tua Tetap Memiliki Peran Besar
Sekolah dan bank dapat memberikan edukasi, tetapi kebiasaan anak terhadap uang banyak terbentuk di rumah.
Orang tua dapat melibatkan anak dalam pembicaraan sederhana mengenai anggaran tanpa harus membuka seluruh kondisi keuangan keluarga.
Anak dapat diajak memahami mengapa sebuah pembelian ditunda, bagaimana menabung untuk barang tertentu, atau mengapa utang harus dibayar tepat waktu.
Pembicaraan mengenai judi online juga sebaiknya tidak hanya berupa larangan.
Remaja perlu mengetahui cara promosi masuk melalui media sosial, alasan permainan dibuat menarik, serta mengapa mengejar kerugian dapat membuat seseorang mengeluarkan uang semakin banyak.
Hal serupa berlaku pada pinjaman ilegal. Anak perlu tahu bahwa mengirim data pribadi ke pihak tidak dikenal dapat membawa risiko yang jauh lebih panjang daripada uang yang diterima.
Keamanan Data Harus Menjadi Bagian dari Literasi
Generasi muda juga perlu memahami bahwa uang digital berkaitan langsung dengan keamanan data.
Nomor identitas, kode OTP, PIN, kata sandi, informasi kartu, serta data rekening tidak boleh diberikan kepada orang lain hanya karena mereka mengaku berasal dari institusi tertentu.
Pelaku penipuan dapat menggunakan rasa panik dan rasa takut agar korban bertindak cepat.
Pesan dapat menyebut rekening akan diblokir, hadiah segera hangus, atau transaksi mencurigakan harus dibatalkan dalam beberapa menit.
Dalam keadaan seperti itu, langkah yang lebih aman adalah berhenti berkomunikasi dan menghubungi institusi melalui kanal resmi.
Kebiasaan memeriksa lebih dulu dapat mulai ditanamkan sejak sekolah karena kelompok muda sangat aktif menggunakan layanan digital.
Edukasi Perlu Dilakukan Berulang
Satu sesi seminar tentu tidak dapat membuat seluruh peserta langsung mempunyai kemampuan finansial yang sama.
Perubahan teknologi membuat modus baru terus muncul.
Pada satu periode, masyarakat menghadapi aplikasi pinjaman ilegal. Pada periode lain muncul investasi palsu, akun tiruan, penipuan menggunakan identitas perusahaan, atau promosi judi yang disamarkan sebagai permainan.
Karena itu, edukasi perlu dilakukan secara berulang dan diperbarui.
Danamon sendiri telah menjalankan kegiatan literasi di berbagai institusi pendidikan. Dalam laporan tahunannya, perusahaan mencatat program serupa sebelumnya diberikan di sejumlah universitas dengan materi pengelolaan keuangan, investasi aman, keamanan digital, serta kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.
Kegiatan di Jambi memperluas sasaran tersebut sampai tingkat SMA.
Pelajar Didorong Menjadi Lebih Kritis terhadap Tawaran Digital
Bagian terpenting dari literasi bukan menghafal banyak istilah perbankan.
Pelajar perlu mempunyai kebiasaan bertanya sebelum menekan tombol.
Siapa pihak yang menawarkan? Apakah lembaganya resmi? Mengapa harus segera mentransfer uang? Dari mana keuntungan berasal? Apa risiko terburuknya? Apakah orang tua atau guru mengetahui layanan tersebut?
Pertanyaan sederhana dapat memberikan jeda sebelum keputusan dibuat.
Di ruang digital, jeda seperti ini sangat bernilai karena banyak penipuan dirancang agar korban bertindak cepat.
Program yang dilakukan Danamon dan OJK di Jambi menempatkan kemampuan tersebut sebagai bagian dari pendidikan finansial sejak sekolah. Pelajar bukan hanya diperkenalkan pada cara menyimpan dan mengelola uang, tetapi juga dibekali kewaspadaan agar akses keuangan yang semakin mudah tidak justru membawa mereka menuju pinjaman ilegal, investasi palsu, maupun perjudian online.