Table of Contents
Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis atau MBG kembali menjadi perhatian setelah ratusan pelajar di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, harus mendapatkan pertolongan medis. Data sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja pada Kamis, 3 September 2026 pukul 13.30 WITA mencatat sedikitnya 136 siswa menjalani perawatan setelah mengalami berbagai keluhan kesehatan. Mereka berasal dari SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale.
Para siswa mendapatkan penanganan di tiga rumah sakit, yaitu RSUD Lakipadada, Rumah Sakit Sinar Kasih dan Rumah Sakit Fatima. Jumlah pasien terus berubah selama proses pendataan karena pelajar dengan keluhan serupa berdatangan untuk memperoleh pemeriksaan medis. Pemerintah daerah pun meminta seluruh fasilitas kesehatan memberikan pelayanan secepat mungkin sambil menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Jumlah Pasien Meningkat Cepat dalam Hitungan Jam
Pada tahap awal kejadian, jumlah siswa yang dilaporkan menjalani perawatan belum mencapai seratus orang. Laporan pada Kamis siang sempat mencatat 79 siswa SMPN 1 Makale dibawa ke tiga rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan. Jumlah tersebut kemudian bertambah setelah siswa lain mengalami gejala serupa dan mendatangi fasilitas kesehatan.
Dinas Kesehatan Tana Toraja kemudian memperbarui data hingga pukul 13.30 WITA. Kepala Dinas Kesehatan Tana Toraja Yosefina Rombetasik menyampaikan bahwa jumlah siswa yang mendapatkan penanganan telah mencapai 136 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 orang tercatat mendapatkan perawatan di RSUD Lakipadada. Sebanyak 41 orang ditangani di Rumah Sakit Sinar Kasih, sementara 25 orang lainnya menjalani pemeriksaan dan perawatan di Rumah Sakit Fatima.
Angka tersebut merupakan data sementara sehingga bukan jumlah akhir dari keseluruhan orang yang mengalami keluhan. Pendataan masih berlangsung bersamaan dengan pemeriksaan pasien yang datang ke rumah sakit.
Korban Berasal dari Dua SMP di Makale
Pada perkembangan awal, perhatian lebih banyak tertuju kepada SMPN 1 Makale karena sebagian besar siswa yang pertama kali mendapatkan pertolongan berasal dari sekolah tersebut. Setelah pendataan diperluas, Dinas Kesehatan memastikan siswa dari SMPN 2 Makale juga mengalami keluhan serupa.
Kedua sekolah berada di wilayah Makale dan menerima makanan MBG dari sumber penyedia yang sama. Kondisi tersebut menjadi salah satu bagian yang kini diperiksa oleh pihak terkait untuk mengetahui hubungan antara makanan yang dibagikan dengan munculnya keluhan kesehatan pada siswa.
Sejumlah laporan menyebut siswa mengalami mual, muntah, sakit kepala, sakit perut, lemas hingga diare. Tidak seluruh siswa memperlihatkan keluhan dengan tingkat yang sama. Ada yang mengalami gejala ringan, sementara siswa lain perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
Gejala Baru Terasa Setelah MBG Dibagikan Sehari Sebelumnya
Salah satu bagian penting dalam kejadian ini adalah waktu munculnya keluhan. Makanan MBG diketahui dibagikan kepada siswa pada Rabu, 2 September 2026. Beberapa siswa tidak langsung mengalami gangguan setelah makanan disantap.
Keluhan mulai dirasakan pada malam hari, dini hari hingga Kamis pagi. Media Indonesia melaporkan sejumlah siswa SMPN 1 Makale mulai mengeluhkan sakit perut sejak subuh. Di lingkungan sekolah kemudian terlihat siswa mengalami muntah dan diare hingga harus mendapatkan pertolongan medis.
Sekretaris Daerah Tana Toraja Rudhy Andi Lolo juga menjelaskan bahwa siswa yang mengalami keluhan belum menerima makanan MBG untuk Kamis ketika gejalanya muncul. Artinya, makanan yang sedang ditelusuri merupakan sajian yang dibagikan pada hari sebelumnya.
Keterangan mengenai jarak waktu antara makanan dikonsumsi dan munculnya gejala menjadi salah satu informasi yang diperlukan dalam pemeriksaan kesehatan. Meski demikian, pemerintah daerah belum menetapkan makanan MBG sebagai penyebab pasti.
Mual, Muntah hingga Diare Dilaporkan Para Siswa
Keluhan yang muncul cukup beragam. Beberapa siswa mengalami sakit perut dan mual, kemudian disusul muntah. Sebagian lainnya mengeluhkan sakit kepala, lemas dan diare.
Kemunculan gejala serupa dalam waktu berdekatan membuat pihak sekolah dan pemerintah daerah segera membawa siswa ke fasilitas kesehatan. Tindakan tersebut diperlukan agar kondisi setiap siswa dapat diperiksa dan mereka yang membutuhkan terapi tambahan bisa segera mendapatkan penanganan.
Sekda Tana Toraja menegaskan pemerintah belum dapat langsung menyatakan kejadian tersebut sebagai keracunan makanan. Pemeriksaan dibutuhkan karena keluhan berupa diare, mual dan muntah juga dapat berkaitan dengan kontaminasi bakteri, virus atau penyebab lainnya.
“Menurut penulis, kehati hatian menentukan penyebab sangat penting dalam kejadian seperti ini. Banyaknya pasien memang membutuhkan respons cepat, tetapi hasil laboratorium tetap diperlukan sebelum menyimpulkan sumber gangguan kesehatan.”
Menu MBG Berisi Ayam Kuning, Tempe, Sayur dan Melon
Makanan yang diterima siswa pada Rabu terdiri dari beberapa jenis lauk, sayuran dan buah. Berdasarkan keterangan Dinas Kesehatan Tana Toraja, menu tersebut antara lain ayam masak kuning, tempe goreng tepung, tumis sayur serta buah melon.
Tumis sayur yang disajikan terdiri dari labu siam, wortel dan jagung. Sejumlah laporan juga menyebut nasi sebagai bagian dari paket makanan yang diterima para siswa.
Komposisi menu tersebut sekarang menjadi bagian dari pemeriksaan. Namun keberadaan suatu makanan dalam paket MBG tidak serta merta menunjukkan bahwa bahan tersebut merupakan sumber masalah.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk melihat kondisi bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan, waktu distribusi serta kemungkinan kontaminasi sebelum makanan diterima siswa.
Dua Sekolah Mendapat Makanan dari Dapur SPPG yang Sama
Dinas Kesehatan Tana Toraja menyebut makanan untuk SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale ditangani oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Batupapan 1.
Informasi ini menjadi perhatian karena kedua sekolah yang siswanya mengalami keluhan mendapatkan layanan dari SPPG yang sama. Aparat kemudian melakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap makanan dan proses penyediaannya.
Menurut Sekda Tana Toraja, SPPG Makale Batupapan 1 melayani sekitar 12 sekolah dengan jumlah penerima manfaat sekitar 2.200 orang. Meski jumlah penerimanya cukup besar, tidak seluruh penerima mengalami keluhan kesehatan. Pemerintah menggunakan fakta tersebut sebagai salah satu alasan untuk tidak mengambil kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan tersedia.
Polisi Amankan Sampel Makanan untuk Pemeriksaan
Penyelidikan terhadap dugaan keracunan tidak hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Kepolisian Resor Tana Toraja ikut melakukan langkah pemeriksaan untuk mencari penyebab kejadian yang membuat ratusan pelajar menjalani perawatan.
Polisi mengamankan sampel makanan dari SPPG Batupapan yang mendistribusikan MBG ke SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale. Sampel tersebut dipersiapkan untuk pemeriksaan laboratorium melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM.
Kapolres Tana Toraja AKBP Budi Hermawan mengatakan pihaknya terlebih dahulu memusatkan perhatian pada penanganan korban. Setelah kondisi siswa tertangani, penyelidikan dapat diarahkan untuk mencari tahu penyebab serta kemungkinan adanya kelalaian.
Langkah pemeriksaan laboratorium memiliki posisi penting karena hasilnya dapat memberikan petunjuk mengenai keberadaan bakteri atau zat tertentu pada makanan.
Penyelidikan Epidemiologi Juga Dilakukan
Selain pengujian sampel makanan, tim kesehatan melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kejadian tersebut. Pemeriksaan ini membantu petugas melihat pola waktu munculnya gejala, makanan yang dikonsumsi, kelompok yang mengalami keluhan serta berbagai informasi kesehatan lainnya.
Dinas Kesehatan belum memastikan penyebab gangguan yang dialami siswa. Yosefina menyatakan penyebab maupun gejala yang terjadi di kedua sekolah masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Karena itu, penggunaan istilah diduga keracunan tetap penting. Sampai hasil pemeriksaan tersedia, hubungan langsung antara menu MBG dan sakit yang dialami siswa belum dapat dinyatakan secara pasti oleh pihak berwenang.
Bupati Tana Toraja Datangi Rumah Sakit
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja bergerak setelah menerima laporan banyaknya siswa yang membutuhkan pertolongan. Bupati Tana Toraja Zadrak Tombeg turun langsung memantau kondisi siswa yang dirawat.
Bupati memastikan tiga rumah sakit yang berada di Tana Toraja disiapkan untuk menangani pasien. Tenaga kesehatan juga diminta memberikan pelayanan sesuai prosedur agar siswa yang membutuhkan perawatan bisa segera ditangani.
Puskesmas dan tenaga kesehatan yang berada di sekitar Makale juga dikerahkan untuk membantu penanganan. Langkah tersebut dibutuhkan karena jumlah siswa yang melaporkan keluhan meningkat cukup cepat sejak pagi.
Kehadiran pemerintah daerah di rumah sakit juga digunakan untuk memastikan fasilitas pelayanan mempunyai sumber daya yang cukup ketika pasien datang dalam jumlah besar secara bersamaan.
DPRD Tana Toraja Minta Program Dievaluasi
Insiden tersebut turut mendapat perhatian dari DPRD Tana Toraja. Ketua DPRD Tana Toraja Kendek Rante mendatangi siswa yang sedang mendapatkan perawatan dan meminta pelaksanaan MBG dihentikan setelah kejadian tersebut.
Permintaan itu muncul ketika jumlah siswa yang mengalami keluhan telah mencapai ratusan. Kendek menilai kejadian tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam pengelolaan program makanan bagi pelajar.
Meski demikian, keputusan mengenai keberlanjutan pelayanan MBG tentu memerlukan koordinasi dengan instansi yang mempunyai kewenangan terhadap pelaksanaan program.
“Menurut penulis, fokus utama tidak cukup hanya mencari bahan makanan yang dicurigai. Pemeriksaan harus mencakup seluruh rantai penyediaan, mulai dari dapur, kebersihan alat, suhu makanan, pengemasan hingga waktu makanan diterima siswa.”
Angka 136 Merupakan Data Sementara Pukul 13.30 WITA
Besarnya perhatian terhadap kasus ini membuat angka korban berubah dalam berbagai pemberitaan. Angka 136 orang berasal dari pembaruan resmi Dinas Kesehatan Tana Toraja pada pukul 13.30 WITA, dengan rincian 70 orang di RSUD Lakipadada, 41 di RS Sinar Kasih dan 25 di RS Fatima.
Dalam laporan yang terbit beberapa jam kemudian, pendataan masih mengalami perubahan. DetikSulsel melaporkan Dinas Kesehatan mencatat 150 siswa dan guru dalam pembaruan hingga pukul 16.10 WITA. Sumber lain pada hari yang sama juga mencatat jumlah berbeda karena proses pendataan pasien masih berjalan.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah 136 tidak sebaiknya disebut sebagai data akhir. Informasi itu merupakan gambaran kondisi pada Kamis siang ketika pasien terus berdatangan dan petugas kesehatan masih melakukan pencatatan.
Pemisahan antara jumlah siswa, guru, pasien yang masih menjalani perawatan serta orang yang hanya mendapatkan pemeriksaan juga diperlukan agar pembaruan berikutnya tidak menimbulkan kebingungan.
Hasil Pemeriksaan Menjadi Kunci Menentukan Penyebab
Hingga proses penanganan berlangsung, pemerintah daerah belum mengumumkan penyebab pasti sakit yang dialami para siswa. Makanan MBG menjadi salah satu objek pemeriksaan karena dikonsumsi oleh kelompok siswa sebelum keluhan muncul, tetapi keterkaitan tersebut masih harus dibuktikan.
Pemeriksaan terhadap sampel makanan, penyelidikan epidemiologi serta informasi medis dari pasien menjadi beberapa bahan yang dapat digunakan untuk menemukan penyebabnya.
Petugas juga perlu melihat apakah terdapat pola tertentu antara siswa yang mengonsumsi komponen menu tertentu dengan siswa yang tidak mengalami keluhan. Informasi mengenai waktu makanan selesai dimasak, waktu dikemas, waktu tiba di sekolah serta lama penyimpanan dapat membantu proses pemeriksaan.
Sementara penyelidikan berjalan, fasilitas kesehatan tetap memusatkan perhatian pada kondisi siswa. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja meminta rumah sakit memberikan pelayanan semaksimal mungkin, sedangkan kepolisian melanjutkan pemeriksaan untuk menentukan apakah terdapat unsur kelalaian dalam proses penyediaan makanan. Hasil pengujian sampel dari makanan yang diamankan menjadi bagian penting untuk memastikan apa yang sebenarnya menyebabkan ratusan siswa di Makale mengalami mual, muntah, sakit perut dan diare setelah menerima menu MBG sehari sebelumnya.