Table of Contents
Badan Riset dan Inovasi Nasional memberikan Sarwono Award 2026 kepada Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia, Prof. Jatna Supriatna. Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, pada Senin, 24 Agustus 2026. BRIN bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan dalam penyelenggaraan penghargaan yang menempatkan Jatna sebagai salah satu tokoh ilmu pengetahuan Indonesia dengan perjalanan panjang di bidang konservasi keanekaragaman hayati.
Penghargaan ini diberikan setelah Jatna menjalani sekitar empat dekade kegiatan penelitian, pendidikan, pengelolaan konservasi, serta keterlibatan dalam organisasi lingkungan nasional dan internasional. Kepala BRIN Arif Satria menilai Jatna mampu mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebijakan konservasi dalam skala Indonesia maupun global. Rekam jejaknya mencakup penelitian primata, pengembangan pusat penelitian perubahan iklim, pendidikan mahasiswa, hingga kepemimpinan dalam organisasi konservasi.
Sarwono Award Menjadi Pengakuan atas Perjalanan Panjang Ilmuwan Indonesia
Sarwono Award bukan penghargaan yang baru dibentuk pada 2026. Penerbit BRIN menjelaskan bahwa Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture telah diselenggarakan sejak 2001 sebagai forum orasi ilmiah untuk tokoh yang berkontribusi pada penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan serta teknologi. Sarwono Award kemudian mulai diberikan pada 2002 sebagai penghargaan atas pencapaian seumur hidup dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan kemanusiaan.
Nama penghargaan tersebut diambil dari Prof. Sarwono Prawirohardjo, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pertama. BRIN menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting dalam pembangunan tradisi penelitian di Indonesia, khususnya melalui penekanan pada integritas, kemandirian berpikir, dan pengabdian ilmiah kepada masyarakat.
Pemilihan Jatna Supriatna pada 2026 menunjukkan perhatian BRIN terhadap bidang biologi konservasi. Kegiatan menjaga keanekaragaman hayati membutuhkan penelitian yang berlangsung dalam waktu panjang karena perubahan populasi satwa, kondisi hutan, fragmentasi habitat, serta tekanan terhadap ekosistem tidak selalu dapat dipahami melalui penelitian singkat.
Menurut penulis, pemberian Sarwono Award kepada Jatna memperlihatkan bahwa penelitian lapangan yang dilakukan secara konsisten selama puluhan tahun tetap memiliki posisi penting di tengah perkembangan teknologi penelitian yang semakin cepat.
Jatna Supriatna Memulai Penelitian dari Hutan Tanjung Puting
Perjalanan Jatna dalam penelitian satwa liar sudah dimulai ketika masih menjadi mahasiswa. Salah satu pengalaman awalnya berlangsung di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Di kawasan tersebut ia mengikuti penelitian mengenai orangutan dan lutung merah. Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu titik yang mengarahkan perjalanan akademiknya menuju biologi konservasi.
Jejak penelitian awal Jatna juga dapat ditemukan dalam publikasi ilmiah. Pada 1979, tulisan berjudul Aktivitas dan Pergerakan Lutung Merah Presbytis rubicundus Muller di Cagar Alam Tanjung Puting Kalimantan Tengah diterbitkan dalam jurnal Berita Biologi. Penelitian tersebut mengamati aktivitas, pergerakan, perilaku, serta hubungan lutung merah dengan kondisi habitatnya.
Penelitian seperti itu memerlukan pengamatan langsung di hutan. Peneliti harus mengikuti keberadaan satwa, mengenali pola pergerakan, mencatat jenis vegetasi, serta melihat perubahan perilaku ketika habitat mengalami gangguan. Pada periode tersebut, teknologi pemantauan satwa belum secanggih sekarang sehingga kemampuan melakukan observasi menjadi sangat penting.
Ketertarikan Jatna terhadap primata kemudian berkembang jauh melampaui Kalimantan. Sulawesi dan pulau di sekitarnya menjadi salah satu wilayah penting dalam kegiatan penelitiannya karena kawasan Wallacea memiliki banyak spesies endemik yang hanya hidup pada wilayah tertentu.
Pendidikan Akademiknya Berlanjut hingga Amerika Serikat
Jatna menyelesaikan pendidikan sarjana Biologi di Universitas Nasional, Jakarta, pada 1976 dan memperoleh gelar doktorandus pada 1978. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di University of New Mexico, Albuquerque, Amerika Serikat. Gelar Master of Science diperolehnya pada 1986, sedangkan gelar doktor dalam bidang antropologi biologi diraih pada 1991.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, Jatna menjalani penelitian pascadoktoral di Center for Environmental Research and Conservation, Columbia University, New York. Penerbit BRIN juga mencatat bahwa ia memperoleh pelatihan manajemen di Massachusetts Institute of Technology di Boston.
Kombinasi pendidikan biologi, antropologi biologi, konservasi, dan manajemen memberikan ruang yang luas dalam perjalanan kariernya. Penelitian satwa liar tidak hanya membutuhkan pemahaman mengenai spesies, tetapi juga membutuhkan kemampuan membaca perubahan lingkungan, hubungan manusia dengan kawasan, pengelolaan organisasi, serta penyusunan program konservasi dalam skala besar.
Pengalaman akademik tersebut kemudian dibawa kembali ke Indonesia melalui penelitian, pendidikan mahasiswa, kegiatan organisasi, dan pengembangan lembaga penelitian.
Karier Penelitian Berawal dari LIPI Sebelum Bergabung dengan UI
Jatna memulai perjalanan profesional sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lembaga yang kemudian menjadi bagian dari struktur BRIN. Setelah itu ia aktif sebagai dosen dan berkembang menjadi profesor di Universitas Indonesia.
Profil Research Center for Climate Change Universitas Indonesia mencatat Jatna sebagai profesor pada Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI dengan keahlian utama biologi konservasi. Ia pernah menjadi Direktur Biodiversity and Conservation Studies dan koordinator program pascasarjana Biologi Konservasi.
Perannya sebagai dosen membuat aktivitas konservasinya tidak berhenti pada penelitian pribadi. Mahasiswa menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena ilmu konservasi membutuhkan generasi peneliti baru yang mampu bekerja di lapangan, menganalisis data, serta menyusun rekomendasi berdasarkan temuan ilmiah.
Profil akademik Universitas Indonesia juga menunjukkan minat penelitian Jatna berada pada biologi konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Publikasinya mencakup pembahasan mengenai fragmentasi hutan, taman nasional, keanekaragaman burung, primata, perubahan penggunaan lahan, serta pengelolaan sumber daya konservasi.
Conservation International Membawa Perannya ke Tingkat Internasional
Selain berada di lingkungan akademik, Jatna memiliki pengalaman panjang bersama Conservation International. Penerbit BRIN mencatat ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif dan kemudian Wakil Presiden Conservation International di Indonesia dalam rentang 1995 hingga 2010. Sumber UI juga mencatat keterlibatannya pada organisasi tersebut berlangsung sejak pertengahan 1990 an.
Posisi tersebut menempatkannya pada pertemuan antara penelitian dan pengelolaan konservasi. Program pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan data ilmiah, tetapi pelaksanaannya juga berkaitan dengan pemerintah, masyarakat, lembaga donor, organisasi internasional, pengelola kawasan, serta berbagai kelompok yang hidup di sekitar hutan.
Jatna juga aktif dalam berbagai jaringan ilmiah internasional. Berdasarkan profil yang dihimpun dalam pemberitaan Sarwono Award 2026, ia terlibat dalam kelompok spesialis primata Asia Tenggara IUCN serta lembaga yang berkaitan dengan solusi iklim berbasis alam.
Pengalaman seperti ini membuat perannya tidak terbatas sebagai orang yang mengamati satwa di lapangan. Ia juga terlibat dalam pembentukan lembaga, pengembangan program, pendidikan, dan penerjemahan hasil riset menjadi pendekatan konservasi yang dapat digunakan lebih luas.
Mendirikan Pusat Penelitian Perubahan Iklim di Universitas Indonesia
Salah satu jejak kelembagaan penting Jatna berada di Universitas Indonesia. Pada 2010, ia mendirikan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim dan hubungannya dengan lingkungan Indonesia.
RCCC UI kemudian menjadi ruang penelitian yang menghubungkan kajian perubahan iklim dengan konservasi, ekologi, sumber daya alam, kebijakan lingkungan, serta berbagai bidang lain. Jatna pernah menjadi ketua pusat penelitian tersebut dan tetap tercatat sebagai akademisi yang bergerak pada biologi konservasi.
Ia juga pernah memimpin Institute for Sustainable Earth and Resources Universitas Indonesia. Lembaga tersebut menghubungkan penelitian tentang lingkungan, sumber daya bumi, konservasi, serta pengelolaan berkelanjutan dalam lingkungan akademik UI.
Pembentukan lembaga penelitian menjadi salah satu bentuk kontribusi yang berbeda dari publikasi ilmiah individual. Sebuah pusat penelitian dapat mempertemukan banyak bidang keahlian sekaligus menjadi tempat mahasiswa dan peneliti muda mengembangkan kegiatan baru.
Wallacea Menjadi Salah Satu Wilayah Penting dalam Riset Jatna
Nama Jatna juga erat dengan penelitian keanekaragaman hayati Wallacea, wilayah biogeografi yang mencakup Sulawesi dan sejumlah pulau di sekitarnya. Kawasan ini mempunyai karakter unik karena menjadi wilayah peralihan antara kelompok fauna Asia dan Australia.
Banyak spesies di Sulawesi memiliki tingkat endemisme tinggi. Kondisi geografis pulau yang terpisah selama periode evolusi panjang menghasilkan berbagai kelompok satwa yang berkembang dengan karakter berbeda.
Jatna menjadikan Sulawesi dan kawasan sekitarnya sebagai salah satu laboratorium alam untuk mempelajari evolusi dan konservasi. Kegiatan penelitian tersebut berkaitan erat dengan primata, terutama tarsius dan kelompok satwa yang hanya ditemukan pada wilayah tertentu.
Publikasi akademiknya juga terus membahas Wallacea. Profil RCCC UI mencantumkan penelitian mengenai ancaman deforestasi dan fragmentasi hutan di pusat endemisme Wallacea sebagai salah satu karya yang diterbitkan pada 2021.
Namanya Diabadikan pada Tarsius hingga Tokek Terbang
Salah satu bentuk penghormatan ilmiah terhadap Jatna terlihat dari penggunaan namanya dalam penamaan beberapa spesies.
Penerbit BRIN mencatat nama Jatna diabadikan pada spesies tarsius dari Gorontalo dengan nama ilmiah Tarsius supriatnai. Namanya juga digunakan pada tokek terbang dari Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, yang diberi nama Draco supriatnai.
Peneliti Indonesia kemudian menggunakan namanya pada tokek yang ditemukan melalui survei di Taman Nasional Bali Barat. Spesies tersebut diberi nama Cyrtodactylus jatnai.
Penamaan spesies merupakan bagian penting dalam taksonomi. Nama tersebut digunakan dalam publikasi ilmiah dan menjadi identitas resmi spesies ketika penelitian telah melalui proses ilmiah yang dibutuhkan.
Bagi seorang biolog konservasi, namanya melekat pada satwa yang diteliti oleh komunitas ilmiah merupakan bentuk penghormatan yang sangat khusus karena akan terus digunakan dalam literatur taksonomi dan konservasi.
Menurut penulis, pengabadian nama Jatna pada beberapa spesies menunjukkan bahwa pengakuan terhadap seorang ilmuwan tidak hanya muncul melalui medali atau piagam, tetapi juga dapat hidup di dalam literatur ilmiah yang digunakan peneliti lintas generasi.
Lebih dari Seratus Artikel dan Sejumlah Buku Lahir dari Perjalanannya
Aktivitas akademik Jatna juga terlihat dari jumlah publikasi. Profil RCCC UI mencatat ia telah menerbitkan lebih dari 100 artikel di berbagai jurnal internasional, termasuk jurnal seperti Science, Nature, Conservation Biology, Primates, Evolution, Primate Conservation, dan Herpetologica.
Ia juga menulis sejumlah buku mengenai keanekaragaman hayati dan lingkungan Indonesia. Dua buku yang sering disebut dalam profil akademiknya adalah Biologi Konservasi dan Menyelamatkan Alam Indonesia. Bersama Sharon Gursky, ia juga terlibat dalam buku Indonesian Primates yang diterbitkan Springer.
Karya dalam bentuk buku mempunyai fungsi berbeda dari artikel ilmiah. Artikel biasanya membahas pertanyaan penelitian yang sangat spesifik, sedangkan buku dapat menjelaskan persoalan konservasi dalam cakupan lebih luas sehingga dapat digunakan oleh mahasiswa, akademisi, pengelola lingkungan, maupun pembaca umum.
Profil akademik UI yang diperbarui hingga 2026 juga masih menampilkan publikasi Jatna, menunjukkan aktivitas ilmiahnya berlangsung dalam periode yang sangat panjang sejak karya mengenai lutung merah pada 1979.
Golden Ark hingga Habibie Award Sudah Lebih Dulu Diterima
Sarwono Award 2026 menambah daftar panjang penghargaan yang sebelumnya diterima Jatna.
Pada 1999, ia menerima Golden Ark Award dari Pangeran Bernhard dari Belanda atas dedikasinya dalam konservasi dan lingkungan. Profil UI juga mencatat penghargaan tersebut sebagai salah satu pengakuan internasional awal terhadap kegiatan konservasinya.
Pada 2009, Jatna menerima Habibie Award untuk bidang ilmu pengetahuan alam. Kemudian pada 2011 ia mendapatkan Achmad Bakrie Award atas kontribusinya dalam bidang sains di Indonesia.
Penghargaan lain datang dari Conservation International, termasuk pengakuan atas perjalanan panjang dalam konservasi keanekaragaman hayati. Pada 2023, ia menerima penghargaan Margot Mash Biodiversity Foundation atas pekerjaannya dalam konservasi primata dan memperoleh Medali Bosscha dari konsorsium universitas Leiden, Delft, dan Erasmus di Belanda.
Pada 2025, ia kembali memperoleh penghargaan pencapaian seumur hidup dari Universitas Indonesia dan Sekolah Ilmu Lingkungan UI.
Hutan Menjadi Ruang Penelitian sekaligus Penopang Kehidupan
Dalam rangkaian Sarwono Award 2026, Jatna kembali menekankan pentingnya melihat hutan lebih luas daripada sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Ia memandang kawasan hutan sebagai tempat hidup berbagai spesies sekaligus ruang penyimpanan informasi ilmiah mengenai evolusi, adaptasi, iklim, pangan, obat, air, dan kebudayaan.
Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan risetnya sejak Tanjung Puting. Penelitian terhadap satu spesies primata pada akhirnya selalu berhubungan dengan kondisi hutan tempat satwa tersebut hidup.
Ketika tutupan hutan berubah, pergerakan satwa dapat ikut berubah. Ketika habitat terpecah menjadi bagian yang lebih kecil, kelompok satwa dapat kehilangan akses menuju sumber makanan atau pasangan. Karena itu, konservasi tidak dapat berhenti pada perlindungan satu individu satwa.
Pendekatan ekosistem menjadi semakin penting untuk negara seperti Indonesia yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati tinggi tetapi juga menghadapi tekanan perubahan penggunaan lahan.
Sarwono Award 2026 Juga Disertai Orasi Gono Semiadi
Penganugerahan Sarwono Award selalu berjalan bersama Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture. Pada 2026, orasi tersebut disampaikan oleh Prof. Gono Semiadi, peneliti senior BRIN yang mempunyai keahlian pada mamalia, pengelolaan satwa liar, biologi konservasi, serta diplomasi hayati.
Format tersebut membuat kegiatan tidak hanya berisi pemberian penghargaan. Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan ilmiah kepada komunitas penelitian dan masyarakat.
BRIN menyelenggarakan kegiatan ini sebagai penghormatan terhadap tradisi keilmuan yang dibangun Sarwono Prawirohardjo. Penghargaan diberikan kepada tokoh dengan perjalanan panjang, sedangkan orasi ilmiah membuka ruang pembahasan tentang persoalan penelitian yang masih terus berkembang.
Kepala BRIN Arif Satria juga berharap penghargaan semacam ini dapat mendorong periset muda untuk membangun karya dengan ketekunan dan integritas. Menurutnya, pencapaian ilmiah besar membutuhkan proses berkelanjutan serta ketangguhan dari peneliti.
Jatna Tetap Aktif di Lingkungan Ilmu Pengetahuan dan Konservasi
Setelah puluhan tahun bekerja, Jatna masih terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah dan konservasi. Profil akademik Universitas Indonesia tetap mencatat aktivitas penelitian Jatna hingga 2026, dengan bidang utama conservation biology dan sustainable development.
Ia juga tercatat sebagai salah satu tenaga ahli dalam jaringan Sustainable Development Goals Universitas Indonesia dengan keahlian pada konservasi dan biodiversitas. Di lingkungan UI, namanya ditempatkan pada bidang yang berkaitan dengan ekosistem daratan serta pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut melengkapi perjalanan yang dimulai dari penelitian lutung merah di Kalimantan pada akhir 1970 an, berkembang menuju penelitian primata di Wallacea, pendidikan di Amerika Serikat, penelitian di LIPI, kegiatan akademik di Universitas Indonesia, kepemimpinan di Conservation International, serta pendirian pusat penelitian perubahan iklim.
Sarwono Award 2026 akhirnya ditempatkan BRIN sebagai penghargaan atas keseluruhan perjalanan tersebut. Bagi Jatna sendiri, penerimaan penghargaan tidak diposisikan sebagai akhir aktivitas ilmiahnya. Ia masih menempatkan pengetahuan, pendidikan, penelitian lapangan, dan perlindungan kekayaan hayati Indonesia sebagai pekerjaan yang perlu terus dilanjutkan bersama peneliti, mahasiswa, organisasi konservasi, serta lembaga ilmu pengetahuan.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/