Table of Contents
Masjid pertama di dunia adalah Masjidil Haram di Makkah apabila pertanyaan tersebut merujuk pada tempat ibadah pertama yang diletakkan bagi manusia. Jawaban ini bersandar pada Surah Ali Imran ayat 96 dan hadis sahih tentang percakapan Nabi Muhammad SAW dengan Abu Dzar Al Ghifari. Sementara itu, Masjid Quba di Madinah disebut sebagai masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW setelah hijrah sekaligus masjid pertama dalam perjalanan masyarakat Islam.
Dua jawaban tersebut sering dianggap saling bertentangan, padahal keduanya berbicara mengenai kategori yang berbeda. Masjidil Haram mempunyai sejarah yang terhubung dengan Ka’bah, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, ibadah haji, serta arah kiblat umat Islam. Masjid Quba dibangun pada periode kerasulan Nabi Muhammad SAW ketika beliau meninggalkan Makkah menuju Madinah.
Penjelasan mengenai masjid pertama perlu ditempatkan berdasarkan dalil, bukan sekadar urutan bangunan yang masih berdiri hingga sekarang. Bentuk Masjidil Haram telah mengalami perluasan berkali kali, demikian pula Masjid Quba. Perubahan arsitektur tidak menghapus kedudukan awal tempat tersebut dalam ajaran dan sejarah Islam.
Masjidil Haram Ditetapkan sebagai Rumah Ibadah Pertama
Dasar utama yang menyebut Masjidil Haram sebagai tempat ibadah pertama terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 96. Ayat tersebut menggunakan sebutan Bakkah, nama yang merujuk pada kawasan Makkah tempat Ka’bah berada.
“Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah yang berada di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”
Terjemahan ayat tersebut menerangkan bahwa rumah pertama yang diperuntukkan bagi manusia berada di Bakkah. Kata rumah dalam ayat ini merujuk pada Baitullah atau Ka’bah yang berada di tengah Masjidil Haram. Surah Ali Imran ayat 96
Penyebutan pertama bukan hanya berkaitan dengan usia bangunan secara fisik. Masjidil Haram menjadi pusat ibadah tauhid yang ditetapkan untuk manusia. Di tempat itu, umat Islam melaksanakan tawaf, salat, iktikaf, doa, serta rangkaian haji dan umrah.
Ayat berikutnya, Surah Ali Imran ayat 97, menyebut adanya tanda yang jelas, termasuk Maqam Ibrahim. Ayat itu juga memuat kewajiban haji bagi orang yang mampu menempuh perjalanan menuju Baitullah.
Kedua ayat tersebut menempatkan Ka’bah dan Masjidil Haram dalam kedudukan yang sangat khusus. Tidak ada masjid lain yang menjadi tujuan tawaf atau pusat rangkaian ibadah haji.
Hadis Abu Dzar Memperjelas Urutan Masjid
Keterangan Al Quran mengenai rumah ibadah pertama diperkuat oleh hadis sahih yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al Ghifari. Ia bertanya langsung kepada Rasulullah SAW tentang masjid yang pertama kali diletakkan di bumi.
Rasulullah SAW menjawab bahwa masjid pertama adalah Masjidil Haram. Ketika Abu Dzar bertanya tentang masjid berikutnya, beliau menjawab Masjidil Aqsa. Jarak waktu antara keduanya disebut 40 tahun.
Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi?” Beliau menjawab, “Masjidil Haram.” Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsa.” Abu Dzar bertanya tentang jarak antara keduanya, lalu Rasulullah SAW menjawab, “Empat puluh tahun.”
Hadis tersebut tercantum dalam Sahih Muslim nomor 520a. Pada bagian akhirnya, Rasulullah SAW menerangkan bahwa ketika waktu salat tiba, seorang Muslim dapat salat di tempat ia berada karena bumi menjadi tempat bersujud. Sahih Muslim 520a
Keterangan ini memberi susunan yang tegas. Masjidil Haram berada pada urutan pertama, sedangkan Masjidil Aqsa berada pada urutan kedua. Masjid Quba tidak masuk dalam perbandingan ini karena dibangun jauh kemudian pada zaman Nabi Muhammad SAW.
“Perbedaan penyebutan Masjidil Haram dan Masjid Quba dapat dipahami dengan melihat pertanyaannya. Masjidil Haram adalah tempat ibadah pertama di bumi, sedangkan Quba merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW setelah hijrah.”
Ka’bah Menjadi Pusat Masjidil Haram
Masjidil Haram adalah kawasan masjid yang mengelilingi Ka’bah. Karena itu, pembicaraan mengenai sejarah Masjidil Haram tidak dapat dipisahkan dari Baitullah yang menjadi pusatnya.
Ka’bah berbentuk bangunan hampir menyerupai kubus dengan sudut yang mengarah ke empat penjuru. Umat Islam di seluruh dunia menghadapkan wajah ke arah Ka’bah ketika salat. Arah tersebut disebut kiblat.
Ka’bah bukan benda yang disembah. Umat Islam hanya menyembah Allah SWT, sedangkan Ka’bah berfungsi sebagai arah yang menyatukan pelaksanaan salat. Orang yang berada di Indonesia, Afrika, Eropa, Amerika, dan wilayah lain menghadap ke satu pusat yang sama.
Di dalam Masjidil Haram, jemaah melaksanakan tawaf dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Perjalanan dimulai sejajar dengan Hajar Aswad dan dilakukan berlawanan dengan arah jarum jam.
Bagian penting lain di sekitarnya meliputi Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, Multazam, serta sumur Zamzam. Setiap tempat mempunyai hubungan dengan rangkaian ibadah dan perjalanan para nabi.
Siapa yang Pertama Kali Membangun Ka’bah?
Pertanyaan mengenai orang yang pertama kali membangun Ka’bah memiliki beberapa penjelasan dalam kitab tafsir dan riwayat sejarah. Ada pendapat yang menghubungkannya dengan Nabi Adam AS, bahkan terdapat riwayat yang menyebut malaikat. Namun, tidak semua keterangan tersebut mempunyai tingkat kekuatan dalil yang sama.
Al Quran memberikan keterangan yang tegas mengenai Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang meninggikan fondasi Ka’bah. Surah Al Baqarah ayat 127 menyebut keduanya mengangkat dasar Baitullah sambil memohon agar amal mereka diterima Allah SWT.
Pemakaian kata meninggikan fondasi dipahami oleh banyak ulama sebagai petunjuk bahwa dasar bangunan telah ada sebelumnya. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kemudian membangun atau meninggikan kembali Ka’bah di atas fondasi tersebut.
Al Quran tidak menyebut secara terperinci nama manusia pertama yang meletakkan seluruh fondasi awal Ka’bah. Oleh sebab itu, sikap yang hati hati adalah berpegang pada keterangan pasti bahwa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangunnya kembali atas perintah Allah SWT.
Cara tersebut menghindarkan pembahasan dari kepastian yang dibuat berdasarkan riwayat lemah. Dalam kajian sejarah Islam, perbedaan antara dalil Al Quran, hadis sahih, dan cerita yang beredar perlu dijaga dengan cermat.
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Membangun Baitullah
Perjalanan Nabi Ibrahim AS menuju Makkah menjadi bagian penting dalam sejarah Baitullah. Atas perintah Allah SWT, beliau membawa Hajar dan Nabi Ismail AS ke lembah yang ketika itu belum mempunyai tanaman serta permukiman besar.
Kisah tersebut berhubungan dengan munculnya air Zamzam. Setelah persediaan air habis, Hajar bergerak antara Bukit Safa dan Marwah untuk mencari pertolongan. Gerakan itu kemudian menjadi bagian dari ibadah sai dalam haji dan umrah.
Ketika Nabi Ismail AS telah tumbuh, Nabi Ibrahim AS kembali dan memperoleh perintah membangun Baitullah. Keduanya bekerja bersama meninggikan fondasi. Nabi Ismail AS membawa batu, sedangkan Nabi Ibrahim AS menyusun bangunan.
Maqam Ibrahim berkaitan dengan batu tempat Nabi Ibrahim AS berdiri saat membangun Ka’bah. Lokasinya sekarang berada di kawasan tawaf dan dilindungi oleh penutup khusus.
Setelah pembangunan, Nabi Ibrahim AS diperintahkan menyeru manusia untuk menunaikan haji. Rangkaian ibadah tersebut terus dilaksanakan hingga sekarang dengan tata cara yang disempurnakan dalam syariat Nabi Muhammad SAW.
Masjidil Haram Mengalami Berbagai Tahap Perluasan
Bentuk Masjidil Haram pada masa awal tidak sama dengan bangunan yang terlihat sekarang. Kawasan di sekitar Ka’bah mulanya berupa ruang terbuka yang dikelilingi rumah penduduk Makkah.
Seiring pertambahan jumlah umat Islam, area tersebut diperluas. Para khalifah dan penguasa pada berbagai periode melakukan pembelian tanah, pembangunan dinding, pembuatan serambi, penambahan pintu, serta perbaikan sarana.
Perluasan berlangsung pada masa Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, pemerintahan Mamluk, Kesultanan Utsmaniyah, hingga pemerintahan Arab Saudi. Setiap pembangunan menyesuaikan jumlah jemaah dan teknologi pada zamannya.
Perluasan modern menghadirkan lantai bertingkat, eskalator, pendingin udara, sistem pencahayaan, area tawaf tambahan, jalur untuk pengguna kursi roda, serta pengaturan pergerakan jemaah dalam jumlah sangat besar.
Walaupun arsitekturnya terus berubah, Ka’bah tetap menjadi pusat bangunan. Seluruh perluasan bergerak keluar dari titik tersebut dan tidak mengubah arah tawaf.
Masjidil Haram Menjadi Kiblat Umat Islam
Pada awal periode Madinah, umat Islam melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem. Nabi Muhammad SAW kemudian menerima perintah untuk mengubah kiblat menuju Masjidil Haram.
Perintah tersebut tercantum dalam Surah Al Baqarah ayat 144. Rasulullah SAW diminta menghadapkan wajah ke arah Masjidil Haram, dan umat Islam diperintahkan melakukan hal yang sama di mana pun berada.
Perubahan kiblat menegaskan hubungan ajaran Islam dengan agama tauhid Nabi Ibrahim AS. Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi arah bersama umat Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa perubahan kiblat juga terjadi ketika sebagian sahabat sedang salat. Setelah menerima kabar mengenai perintah baru, mereka berbalik menghadap Ka’bah tanpa membatalkan salat.
Masjid Qiblatain di Madinah sering dikaitkan dengan peristiwa tersebut. Namanya berarti masjid dua kiblat karena mengingatkan pada perpindahan arah dari Baitul Maqdis menuju Masjidil Haram.
Masjidil Aqsa Berada pada Urutan Kedua
Hadis Abu Dzar menempatkan Masjidil Aqsa sebagai masjid kedua yang diletakkan di bumi. Masjid ini berada di kawasan suci Yerusalem dan mempunyai kedudukan utama dalam Islam.
Jarak 40 tahun yang disebut dalam hadis sering menimbulkan pertanyaan karena Nabi Ibrahim AS dan Nabi Sulaiman AS hidup dalam periode yang terpaut jauh. Para ulama menjelaskan bahwa pembangunan dapat merujuk pada peletakan awal dan pembangunan kembali, bukan selalu pendirian pertama oleh tokoh yang paling dikenal.
Nabi Sulaiman AS dapat dipahami sebagai nabi yang membangun kembali atau memperbarui tempat ibadah tersebut, sebagaimana Nabi Ibrahim AS meninggikan kembali fondasi Ka’bah.
Masjidil Aqsa juga berhubungan dengan perjalanan Isra Mikraj. Nabi Muhammad SAW diperjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa sebelum naik melewati lapisan langit.
Tempat ini pernah menjadi kiblat umat Islam sebelum perintah menghadap Ka’bah turun. Kedudukannya membuat Masjidil Aqsa termasuk salah satu dari tiga masjid yang mempunyai keutamaan khusus bersama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Masjid Quba Disebut Masjid Pertama dalam Sejarah Islam
Masjid Quba mempunyai sebutan masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam. Pernyataan ini merujuk pada pembangunan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat setelah hijrah dari Makkah menuju Madinah.
Masjid tersebut dibangun pada 622 M di kawasan Quba, sebelah selatan Madinah. Lokasinya berada di jalur hijrah yang dilalui Rasulullah SAW. Sumber pengetahuan resmi Arab Saudi menyebut Quba sebagai masjid pertama yang dibangun dalam Islam. Saudipedia
Setelah meninggalkan Makkah, Rasulullah SAW tiba di Quba dan tinggal bersama Bani Amr bin Auf. Pada masa singkat itu, beliau ikut meletakkan dasar masjid dan melaksanakan salat bersama kaum Muslimin.
Bangunan awal Masjid Quba sangat sederhana. Bahan yang digunakan berasal dari lingkungan sekitar, termasuk batu, tanah, dan batang kurma. Kemegahan bangunan bukan tujuan utamanya. Masjid dibutuhkan sebagai tempat sujud, pertemuan, pengajaran, dan penguatan persaudaraan.
Keberadaannya menandai pembentukan ruang ibadah yang dibangun Nabi Muhammad SAW setelah memperoleh tempat aman dari tekanan kaum Quraisy di Makkah.
Surah At Taubah Menyebut Masjid yang Didirikan atas Ketakwaan
Masjid Quba sering dihubungkan dengan Surah At Taubah ayat 108. Ayat tersebut menyebut masjid yang didirikan atas dasar ketakwaan sejak hari pertama serta diisi oleh orang yang mencintai kesucian.
“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang yang membersihkan diri.”
Ayat ini turun ketika terdapat bangunan yang disebut Masjid Dhirar. Bangunan tersebut didirikan kelompok munafik dengan tujuan memecah kaum beriman dan menyediakan tempat bagi pihak yang memusuhi Allah serta Rasul-Nya.
Rasulullah SAW dilarang salat di Masjid Dhirar. Beliau diarahkan kepada masjid yang fondasinya berdiri di atas ketakwaan. Surah At Taubah ayat 108
Sebagian penjelasan menghubungkan sebutan tersebut dengan Masjid Quba, sedangkan riwayat lain menunjukkan keutamaan itu juga berlaku pada Masjid Nabawi. Keduanya tidak harus dipertentangkan karena sama sama dibangun oleh Nabi Muhammad SAW untuk ibadah dan persatuan kaum Muslimin.
Keutamaan Salat di Masjid Quba
Nabi Muhammad SAW tetap mengunjungi Masjid Quba setelah menetap di pusat Madinah. Riwayat dari Abdullah bin Umar menyebut beliau datang dengan berjalan kaki atau berkendara, lalu melaksanakan salat dua rakaat.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa hubungan Rasulullah SAW dengan Quba tidak berhenti setelah Masjid Nabawi selesai dibangun. Beliau terus mendatangi tempat yang menjadi bagian awal perjalanan hijrah itu.
Hadis dari Sahl bin Hunaif menyebut orang yang bersuci di rumah, kemudian datang ke Masjid Quba dan melaksanakan salat, memperoleh pahala seperti umrah. Riwayat tersebut tercantum dalam Sunan Ibnu Majah nomor 1412. Sunan Ibnu Majah 1412
Keutamaan itu tidak berarti salat di Quba menggantikan kewajiban umrah. Hadis membicarakan pahala, bukan pengganti rangkaian ibadah yang meliputi ihram, tawaf, sai, dan tahalul.
Jemaah yang berada di Madinah biasanya memasukkan Masjid Quba dalam perjalanan ziarah. Mereka dianjurkan menjaga niat, bersuci sebelum berangkat, dan melaksanakan salat dengan tenang.
Masjid Nabawi Dibangun Setelah Masjid Quba
Setelah tinggal sementara di Quba, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan menuju pusat Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Unta beliau berhenti di sebidang tanah yang menjadi lokasi pembangunan Masjid Nabawi.
Tanah tersebut dimiliki dua anak yatim dari Bani Najjar. Rasulullah SAW meminta agar harganya ditentukan. Setelah urusan tanah selesai, pembangunan dilakukan bersama para sahabat.
Bangunan awal mempunyai dinding dari batu dan tanah, tiang dari batang kurma, serta atap dari pelepah. Sebagian area dibiarkan terbuka. Di dekat masjid juga dibuat tempat tinggal Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.
Masjid Nabawi berfungsi sebagai tempat salat, pendidikan, musyawarah, penerimaan tamu, pengaturan urusan masyarakat, serta perlindungan bagi kelompok yang membutuhkan.
Urutan sejarahnya perlu diperhatikan. Masjid Quba dibangun lebih dahulu ketika Nabi Muhammad SAW baru tiba di pinggiran Madinah. Masjid Nabawi dibangun setelah beliau memasuki pusat kota.
Tiga Istilah yang Tidak Seharusnya Dicampurkan
Pertanyaan mengenai masjid pertama dapat dijawab secara tepat dengan memperhatikan tiga kategori. Masing masing memiliki dasar dan urutan tersendiri.
Masjidil Haram adalah masjid pertama yang diletakkan di bumi dan rumah ibadah pertama bagi manusia. Masjidil Aqsa merupakan masjid kedua berdasarkan hadis Abu Dzar, dengan jarak peletakan 40 tahun setelah Masjidil Haram.
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW setelah hijrah serta dikenal sebagai masjid pertama dalam sejarah masyarakat Islam. Masjid Nabawi dibangun sesudahnya di pusat Madinah.
Dengan pembagian tersebut, jawaban tidak berhenti pada satu nama tanpa penjelasan. Orang yang bertanya mengenai masjid paling awal di bumi diarahkan kepada Masjidil Haram. Orang yang menanyakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW diarahkan kepada Masjid Quba.
Perbedaan ini juga menjelaskan mengapa berbagai buku atau artikel dapat memberikan jawaban berlainan. Sebagian menggunakan ukuran usia tempat ibadah, sedangkan sebagian lain membahas periode kelahiran masyarakat Islam di Madinah.
Bentuk Awal Masjid Berbeda dari Bangunan Sekarang
Masjid pada periode awal tidak dibangun dengan menara tinggi, kubah besar, pendingin udara, karpet tebal, atau hiasan yang rumit. Kebutuhan utama ialah ruang bersih untuk bersujud dan berkumpul.
Masjidil Haram pada masa awal berupa kawasan terbuka di sekitar Ka’bah. Masjid Quba dan Masjid Nabawi menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan Madinah. Kesederhanaan tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
Seiring pertambahan umat dan perubahan kebutuhan, ketiga masjid mengalami renovasi serta perluasan. Bangunan modern dirancang untuk menampung jemaah dalam jumlah lebih besar dan menyediakan keamanan serta kemudahan pelayanan.
Masjid Quba kini mempunyai kubah, menara, area salat luas, halaman, serta sarana bagi jemaah. Proyek perluasan juga dirancang untuk meningkatkan kapasitas kawasan secara besar. Namun, titik historisnya tetap terhubung dengan lokasi masjid yang dibangun pada awal hijrah.
Masjidil Haram berkembang menjadi kompleks sangat luas dengan beberapa lantai dan berbagai fasilitas. Di tengah seluruh perkembangan tersebut, Ka’bah tetap berdiri sebagai pusat tawaf dan arah salat umat Islam di seluruh dunia.
Jejak Masjid Pertama Menyatukan Perjalanan Para Nabi
Masjidil Haram mempertemukan perjalanan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Nabi Muhammad SAW. Masjidil Aqsa terhubung dengan banyak nabi Bani Israil serta perjalanan Isra Mikraj. Masjid Quba menjadi bagian dari hijrah dan pembentukan masyarakat Muslim di Madinah.
Hubungan tersebut menunjukkan kesinambungan ajaran tauhid. Para nabi menyeru manusia menyembah Allah SWT, sedangkan tempat ibadah dibangun untuk mendukung ketaatan dan persatuan.
Ka’bah tidak hanya dikenal sejak Nabi Muhammad SAW. Bangunan itu telah terhubung dengan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Rasulullah SAW kemudian membersihkannya dari berhala setelah pembebasan Makkah.
Masjid Quba memperlihatkan langkah pertama Rasulullah SAW ketika memperoleh lingkungan baru di Madinah. Sebelum membangun pusat perdagangan atau kediaman megah, beliau bersama sahabat mendirikan tempat ibadah.
Urutan tersebut memberi gambaran bahwa masjid menempati posisi utama dalam kehidupan umat Islam. Fungsinya bukan hanya menyediakan ruang salat, tetapi juga menjadi tempat belajar, bertemu, menolong sesama, dan memelihara persaudaraan.