Home EdukasiApakah Bahasa Pemrograman PHP Masih Relevan di 2025 ?

Apakah Bahasa Pemrograman PHP Masih Relevan di 2025 ?

by Admin Radar
0 comments

Di tengah arus deras perkembangan teknologi digital, bahasa pemrograman menjadi fondasi utama dalam membangun berbagai aplikasi dan situs web. Setiap tahun, muncul bahasa baru dengan sintaks lebih ringkas dan performa yang diklaim lebih cepat. JavaScript, Python, Go, hingga Rust kini banyak diminati generasi muda pengembang. Namun di tengah euforia itu, muncul pertanyaan klasik: apakah PHP masih relevan di tahun 2025, ataukah bahasa ini sudah kehilangan tajinya?

Membicarakan PHP tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjangnya. Bahasa ini diperkenalkan pertama kali pada 1994 oleh Rasmus Lerdorf. Dari yang awalnya hanya sekadar kumpulan CGI script sederhana untuk menghitung kunjungan web, kini PHP menjelma sebagai salah satu bahasa pemrograman paling banyak digunakan di dunia. Dengan usianya yang mendekati tiga dekade, PHP tentu sudah melewati berbagai pasang surut.

Popularitas PHP di Dunia Web

PHP pernah menjadi raja web development pada awal tahun 2000-an. Banyak situs besar di era awal internet dibangun menggunakan PHP. Statistik dari W3Techs per September 2025 menunjukkan bahwa PHP masih digunakan oleh 73,6 persen dari seluruh website dengan bahasa server-side yang terdeteksi. Bahkan di awal tahun ini, data lain mencatat angka PHP mencapai 74,5 persen. Angka ini memang menurun dibandingkan dekade lalu, namun tetap menunjukkan dominasi yang sulit digeser.

Dominasi PHP tidak lepas dari platform manajemen konten yang populer. WordPress, yang menguasai sekitar 43,5 persen seluruh website dunia dan 61,4 persen pasar CMS, sepenuhnya ditenagai oleh PHP. Begitu pula dengan Joomla dan Drupal yang masih memiliki basis pengguna loyal. Dengan sendirinya, keberadaan PHP terus terjaga selama CMS raksasa tersebut masih digunakan secara global.

Walau demikian, popularitas PHP di kalangan pengembang muda menurun. Survei mencatat hanya 18,2 persen developer yang aktif menggunakannya, serta 15,2 persen pemula yang memilih PHP sebagai bahasa pertama mereka. Data ini mengindikasikan bahwa PHP memang mulai tersisih dari tren modern, namun tetap bertahan karena basis penggunaannya sudah terlalu besar untuk ditinggalkan begitu saja.

Tren Penggunaan PHP 2015–2025

Untuk melihat lebih jelas perubahan popularitas PHP dalam satu dekade terakhir, berikut data persentase penggunaannya di web berdasarkan laporan W3Techs:

TahunPersentase Situs Web Menggunakan PHP
201582%
201682%
201780%
201879%
201978%
202078%
202179%
202277%
202377%
202474,5%
202573,6%

Dari tabel tersebut terlihat bahwa meski mengalami penurunan perlahan, PHP masih mendominasi sebagian besar web hingga kini.

Perbandingan dengan Node.js, Python, dan Go

Perdebatan relevansi PHP biasanya muncul ketika dibandingkan dengan bahasa-bahasa baru. Node.js misalnya, hadir dengan keunggulan non-blocking I/O yang membuatnya sangat cocok untuk aplikasi real-time dan microservices. Python juga semakin populer berkat kemudahan sintaks dan kekuatannya dalam data science serta machine learning. Sementara itu, Go dan Rust mulai mencuri perhatian karena performanya yang tinggi dan dukungan multi-threading yang lebih baik.

Namun jika dilihat dari sisi penggunaan server-side di web, data menunjukkan bahwa PHP masih jauh di atas. Persentasenya mencapai 73–75 persen, sedangkan JavaScript server-side hanya sekitar 4,9 persen, Python 1,2 persen, dan Go bahkan kurang dari 0,1 persen. Node.js memang mengalami pertumbuhan, tetapi secara global hanya menyentuh angka 1–2 persen. Fakta ini membuktikan bahwa meski popularitasnya di kalangan developer muda lebih rendah, PHP masih menjadi pilihan mayoritas dalam praktik dunia nyata.

Sebuah analisis dari Medium menyebutkan bahwa PHP 8.3 dengan teknologi JIT justru unggul dalam operasi CPU-intensive, sementara Node.js lebih cocok untuk aplikasi dengan kebutuhan I/O tinggi. Artinya, kedua bahasa ini bukan saling menggantikan, melainkan memiliki ruangnya masing-masing.

Ekosistem dan Framework Modern PHP

Salah satu faktor yang membuat PHP tetap relevan adalah ekosistemnya yang matang. Kritik bahwa PHP lambat dan tidak aman sudah banyak terjawab dengan perkembangan versinya. PHP 8 dan rilis terbarunya menghadirkan peningkatan performa yang signifikan. Dengan adanya JIT, banyak perhitungan yang sebelumnya lambat kini dapat dieksekusi lebih cepat.

Selain itu, framework modern menjadi tulang punggung pengembangan berbasis PHP. Laravel, misalnya, terus menjadi framework favorit developer di seluruh dunia. Sintaks yang elegan, dokumentasi yang lengkap, serta ekosistem paket yang luas menjadikan Laravel salah satu framework paling produktif. Data mencatat bahwa sekitar 61 persen developer PHP memilih menggunakan Laravel dalam proyeknya.

Framework lain seperti Symfony dan CodeIgniter juga masih banyak digunakan, terutama di perusahaan yang sudah lama beroperasi dan memiliki sistem berbasis PHP. Dengan dukungan framework-framework ini, PHP tidak lagi dipandang sebagai bahasa lama yang ketinggalan zaman, melainkan sebagai bahasa yang tetap bisa beradaptasi dengan kebutuhan industri modern.

Tantangan dan Persaingan yang Semakin Ketat

Meski memiliki basis pengguna yang besar, PHP tentu tidak luput dari tantangan. Bahasa-bahasa baru muncul dengan fitur yang lebih futuristik. Banyak startup modern memilih menggunakan JavaScript full stack dengan kombinasi Node.js dan React, atau bahkan TypeScript yang lebih terstruktur. Python pun semakin kuat di bidang back-end melalui framework seperti Django dan Flask.

Persaingan ini memengaruhi persepsi generasi baru pengembang. Tidak sedikit yang menganggap PHP sebagai bahasa “tua” yang kurang menarik dipelajari. Hal ini bisa menjadi hambatan regenerasi tenaga kerja di bidang PHP, meski kenyataannya permintaan industri tetap tinggi. Perusahaan besar dengan sistem lama masih membutuhkan developer PHP untuk pemeliharaan maupun pengembangan lanjutan.

“Menurut saya, PHP di 2025 bukan soal modern atau tidak modern, tapi soal kebutuhan. Selama mayoritas web dunia masih berdiri di atas PHP, maka bahasa ini akan selalu punya tempat di industri.”

Kutipan tersebut menggambarkan realitas bahwa PHP tetap relevan bukan karena tren, melainkan karena kebutuhan nyata yang tidak bisa dihapus begitu saja.

Relevansi PHP di Dunia Kerja

Dari sisi dunia kerja, permintaan terhadap developer PHP masih cukup besar. Perusahaan yang mengelola website berbasis WordPress, Joomla, atau Drupal masih membutuhkan tenaga ahli. Begitu juga perusahaan yang memiliki sistem internal berbasis PHP, mereka cenderung mempertahankan infrastruktur yang sudah stabil daripada melakukan migrasi besar-besaran.

Biaya pengembangan dengan PHP pun relatif lebih rendah dibanding bahasa lain. Banyak developer yang menguasai PHP, sehingga perusahaan lebih mudah mencari talenta dengan biaya kompetitif. Selain itu, ekosistem open source yang luas membuat banyak tools dan library bisa digunakan tanpa biaya tambahan.

Komunitas PHP Indonesia yang Masih Hidup

Selain faktor global, keberlangsungan PHP juga ditopang oleh komunitas lokal yang solid. Di Indonesia, PHP Indonesia (PHPID) berdiri sejak 2008 dan kini menjadi salah satu komunitas teknologi terbesar di tanah air. Komunitas ini telah berkembang hingga mencakup 34 regional dari Sabang sampai Merauke.

PHPID awalnya fokus pada diskusi PHP, namun kemudian berkembang menjadi rumah besar bagi berbagai topik teknologi, mulai dari cloud computing, UI/UX, hingga dunia startup. Tidak sedikit kegiatan yang mereka gelar, mulai dari workshop, seminar, hingga PHP ID Online Learning yang telah menghadirkan puluhan kelas untuk mendukung pendidikan TI secara terbuka.

Di Jakarta, terdapat PHPID Chapter Jakarta yang memiliki beragam aktivitas seperti sharing knowledge, open source project, kopi darat, hingga kompetisi kuis antar anggota. Kegiatan ini tidak hanya menjaga semangat komunitas tetap hidup, tetapi juga membantu regenerasi developer muda agar tetap mengenal dan menguasai PHP.

Peran komunitas ini penting, karena selain menjaga pengetahuan tetap relevan, mereka juga membangun jaringan kerja yang bisa membantu anggotanya berkembang di dunia profesional. Dengan adanya komunitas aktif, PHP di Indonesia bukan sekadar bahasa lama, melainkan masih menjadi bagian penting dari ekosistem digital nasional.

You may also like

Leave a Comment