Table of Contents
Nama Songkou Port di Meizhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok, tidak sekadar titik di peta. Pelabuhan kecil di tepi Sungai Mei ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang orang-orang Hakka yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Bagi banyak keluarga Tionghoa Indonesia, khususnya keturunan Hakka, kisah leluhur mereka berakar di wilayah ini.
Sejarah Songkou sebagai Pintu Migrasi
Songkou sejak dahulu dikenal sebagai dermaga perdagangan penting di kawasan Meizhou. Letaknya strategis karena terhubung langsung dengan jalur air Sungai Mei yang bermuara ke laut. Pada abad ke-18 hingga 19, kondisi sosial dan ekonomi membuat banyak orang Hakka meninggalkan kampung halaman. Mereka menggunakan pelabuhan Songkou untuk memulai perjalanan panjang menuju Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda yang kini kita kenal sebagai Indonesia.
Sejarawan mencatat, gelombang migrasi ini bukan sekadar faktor ekonomi, tetapi juga karena keterbatasan lahan pertanian di wilayah pegunungan Meizhou. Orang Hakka dikenal sebagai kelompok pekerja keras, dengan keahlian di bidang pertanian dan perdagangan, sehingga keberadaan mereka di tanah perantauan banyak berkontribusi terhadap pembangunan lokal.
Saya pribadi selalu kagum dengan daya tahan komunitas ini. “Songkou bagi saya bukan hanya sebuah dermaga kecil, melainkan pintu besar yang membuka jalan bagi identitas, perjuangan, dan kisah lintas generasi orang Hakka di Nusantara.”
Timeline Migrasi Orang Hakka dari Songkou ke Indonesia
Perjalanan diaspora Hakka tidak terjadi dalam sekejap, melainkan melalui gelombang panjang yang terbentang ratusan tahun. Berikut garis waktu yang menggambarkan alurnya:
- Abad ke-17: Awal migrasi kecil-kecilan orang Hakka dari Guangdong menuju Asia Tenggara, terutama ke Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.
- Abad ke-18: Pelabuhan Songkou mulai menjadi titik penting keberangkatan, ketika banyak keluarga Hakka mencari kehidupan baru akibat keterbatasan lahan di kampung halaman.
- Awal abad ke-19: Gelombang besar migrasi ke Hindia Belanda. Orang Hakka bekerja di sektor perkebunan, tambang, hingga perdagangan di daerah Bangka Belitung, Sumatra, Kalimantan, dan Jawa.
- Akhir abad ke-19: Komunitas Hakka semakin mapan di Indonesia, membentuk perkumpulan sosial dan budaya untuk mempertahankan identitas.
- Awal abad ke-20: Hubungan dengan tanah leluhur tetap terjaga. Beberapa keluarga pulang sementara ke Meizhou atau mengirim kabar melalui surat dan jaringan perdagangan.
- Masa pasca kemerdekaan Indonesia: Generasi Hakka Indonesia mulai mengakar sebagai bagian dari masyarakat lokal, meski tetap menjaga tradisi dan bahasa Hakka.
Hakka dan Identitas di Tanah Perantauan
Orang Hakka membawa serta bahasa, tradisi, dan nilai-nilai kekeluargaan mereka. Di Indonesia, jejak budaya Hakka terlihat jelas di sejumlah kota seperti Singkawang, Pontianak, Medan, dan Bangka Belitung. Tradisi perayaan Cap Go Meh dengan tatung di Singkawang misalnya, banyak dipengaruhi oleh budaya Hakka.
Yang menarik, meski berabad-abad jauh dari tanah asalnya, identitas Hakka tetap dijaga. Bahasa Hakka, masakan khas seperti suan pan zi (panganan tradisional dari singkong), hingga nilai kerja keras dan solidaritas masih diwariskan turun-temurun.
Sebagai penulis, saya merasakan betapa kuatnya ikatan ini. “Bagi saya, Songkou bukan sekadar nama pelabuhan, tetapi simbol keterhubungan emosional yang melintasi generasi. Dari dermaga inilah kisah keluarga-keluarga Tionghoa Indonesia dimulai.”
Hubungan Kultural dengan Indonesia
Hubungan antara Meizhou dan komunitas Tionghoa Indonesia masih terjalin hingga kini. Banyak keluarga yang melakukan napak tilas ke Songkou, mencari desa leluhur, atau sekadar berdiri di tepi dermaga untuk membayangkan langkah kaki nenek moyang mereka.
Selain itu, hubungan kultural juga terlihat dari organisasi Hakka internasional yang rutin mengadakan pertemuan, menghubungkan diaspora Hakka dari berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu negara dengan populasi Hakka terbesar di luar Tiongkok.

Kuliner Khas Hakka dari Meizhou dan Jejaknya di Indonesia
Budaya Hakka tidak bisa dilepaskan dari tradisi kuliner yang khas. Di Meizhou, makanan Hakka identik dengan rasa yang sederhana, gurih, dan menekankan kesegaran bahan. Beberapa hidangan bahkan terbawa ke Indonesia dan mengalami adaptasi lokal.
Beberapa kuliner khas Hakka antara lain:
- Lei Cha (teh tumbuk): Sup teh herbal yang dicampur dengan sayuran, kacang, dan biji-bijian. Di Indonesia, hidangan ini lebih dikenal di komunitas Hakka di Bangka dan Belitung.
- Yong Tau Foo (tahu isi): Tahu atau sayuran yang diisi dengan daging cincang, kemudian direbus atau digoreng. Variasi ini banyak dijumpai di rumah makan Tionghoa Indonesia.
- Suan Pan Zi (kue singkong Hakka): Terbuat dari singkong parut yang dibentuk bulat, lalu ditumis dengan daging cincang, sayuran, dan bumbu sederhana. Di Indonesia, makanan ini menjadi comfort food khas keluarga Hakka.
- Ngiong Tio (bakso Hakka): Bola daging yang kenyal, biasanya dari campuran babi dan ikan, masih banyak disajikan di rumah tangga Hakka.
Kehadiran kuliner ini di Indonesia tidak hanya menjadi pengikat identitas, tetapi juga menunjukkan bagaimana budaya Hakka mampu beradaptasi dengan cita rasa Nusantara.
Sebagai jurnalis yang pernah mencicipi langsung suan pan zi buatan keluarga Hakka di Singkawang, saya merasa makanan bisa menjadi cara paling lembut untuk mengenal budaya. “Kuliner Hakka adalah jembatan rasa yang membuat orang merasa pulang, meskipun tanah leluhur jauh di seberang lautan.”
Desa Leluhur Hakka di Sekitar Songkou
Selain pelabuhan, wilayah sekitar Songkou juga dikenal dengan desa-desa leluhur yang menjadi asal-usul banyak keluarga Hakka di Indonesia. Desa-desa ini menyimpan catatan genealogis (zupu) yang masih dijaga dengan baik. Beberapa desa terkenal antara lain:
- Desa Dabu: Sering disebut sebagai “ibu kota Hakka dunia”, tempat ini menjadi pusat budaya Hakka di Meizhou. Banyak orang Hakka dari Indonesia menelusuri silsilah keluarga mereka di sini.
- Desa Meixi: Berada tidak jauh dari Songkou, desa ini menjadi asal-usul sejumlah besar keluarga yang bermigrasi ke Bangka dan Belitung.
- Desa Songkou Lama: Desa yang berdiri di dekat pelabuhan, sering menjadi titik keberangkatan generasi awal Hakka yang merantau.
- Desa Shitang: Terkenal sebagai desa dengan banyak keturunan Hakka perantau, arsip keluarga di desa ini sering menjadi tujuan peneliti diaspora.
- Desa Jiaying (sekarang Meizhou): Salah satu wilayah administratif lama yang mencakup banyak desa asal migran Hakka ke Asia Tenggara.
Bagi keturunan Hakka Indonesia yang berkunjung, berdiri di halaman kuil leluhur di desa-desa tersebut sering menjadi pengalaman emosional. Mereka bisa melihat nama keluarga tercatat dalam silsilah, menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Saya pernah mendengar kisah seorang teman keturunan Hakka dari Belitung yang pulang ke Meizhou. Ia bercerita sambil berlinang air mata, “Saya merasa seperti menemukan potongan jiwa yang hilang ketika melihat nama keluarga saya di papan leluhur desa. Seakan perjalanan ratusan tahun itu menutup lingkaran.”
Songkou sebagai Warisan Sejarah Dunia
Kini, Songkou Port tidak lagi sekadar pelabuhan kecil. Ia berubah menjadi simbol diaspora Hakka. Pemerintah lokal di Meizhou menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang ramai dikunjungi turis, terutama dari komunitas keturunan Hakka di Asia Tenggara.
Bangunan tua di sekitar pelabuhan, jalanan yang masih mempertahankan arsitektur lama, hingga museum kecil yang mendokumentasikan sejarah migrasi, semuanya menjadi pengingat betapa besar kontribusi Songkou dalam membentuk sejarah komunitas Tionghoa dunia.
Sebagai jurnalis, saya memandang tempat ini layaknya jembatan sejarah. “Songkou Port seakan berkata: meski kita tersebar jauh, kita berasal dari akar yang sama.”