Table of Contents
Sai menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji dan umrah. Ibadah ini dilakukan dengan berjalan dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan. Meski terlihat sederhana, sa’i memiliki tata cara yang harus dipahami agar pelaksanaannya sesuai tuntunan dan tidak menimbulkan kebingungan saat berada di Tanah Suci.
Bagi jemaah yang baru pertama kali menunaikan haji atau umrah, sa’i sering menjadi bagian yang membutuhkan perhatian khusus. Selain harus menjaga hitungan perjalanan, jemaah juga perlu memahami bacaan yang dianjurkan, posisi memulai, bagian yang disunnahkan untuk berlari kecil bagi laki laki, hingga tahalul setelah sa’i selesai.
Pengertian Sai dalam Ibadah Haji dan Umrah
Sebelum memahami bacaan dan tata caranya, jemaah perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sa’i. Dalam ibadah haji dan umrah, sa’i adalah berjalan bolak balik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.
Sa’i bukan sekadar aktivitas berjalan. Ibadah ini menjadi bagian dari manasik yang memiliki kedudukan penting dan berkaitan dengan syiar Allah. Karena itu, jemaah tidak boleh melakukannya secara asal, apalagi sampai salah memulai atau keliru menghitung jumlah perjalanan.
Sai Dilakukan Setelah Tawaf
Dalam rangkaian umrah, sa’i dilakukan setelah tawaf. Jemaah lebih dahulu melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, kemudian melanjutkan dengan sa’i antara Shafa dan Marwah.
Urutan ini penting diperhatikan. Sa’i tidak dikerjakan sebelum tawaf dalam pelaksanaan umrah. Jika jemaah belum menyelesaikan tawaf, maka ia belum masuk pada tahap sa’i. Karena itu, pembimbing manasik biasanya selalu menekankan agar jemaah memahami alur ibadah dari awal.
Sai Mengingatkan Perjuangan Siti Hajar
Sa’i juga mengingatkan umat Islam pada perjuangan Siti Hajar ketika mencari air untuk putranya, Nabi Ismail. Ia berjalan antara Shafa dan Marwah dengan penuh kesungguhan hingga Allah memberikan pertolongan melalui keluarnya air zam zam.
Dari peristiwa itu, sa’i menjadi ibadah yang mengajarkan kesabaran, usaha, dan keyakinan kepada Allah. Setiap langkah jemaah antara Shafa dan Marwah seharusnya tidak hanya menjadi gerakan fisik, tetapi juga pengingat tentang kuatnya tawakal setelah berusaha.

Persiapan Sebelum Memulai Sai
Sebelum memulai sa’i, jemaah perlu memastikan bahwa tawaf telah selesai dilakukan. Setelah itu, jemaah dapat menuju area Shafa untuk memulai sa’i. Pada tahap ini, ketenangan sangat diperlukan agar ibadah berjalan tertib.
Jemaah juga sebaiknya menjaga kondisi fisik karena sa’i membutuhkan tenaga. Meski jalur Shafa dan Marwah kini sudah lebih nyaman, perjalanan tujuh kali tetap memerlukan stamina, terutama saat kondisi area sangat ramai.
Menjaga Niat dalam Hati
Niat dalam ibadah berada di dalam hati. Saat hendak memulai sa’i, jemaah menghadirkan kesadaran bahwa ia sedang melakukan sa’i sebagai bagian dari ibadah haji atau umrah karena Allah.
Tidak perlu memaksakan diri mengucapkan niat panjang jika belum hafal. Yang paling penting adalah hati mengetahui ibadah yang sedang dilakukan. Dengan niat yang jelas, jemaah dapat melangkah dengan lebih tenang.
Memahami Hitungan Sebelum Berjalan
Sebelum mulai, jemaah perlu memahami cara menghitung sa’i. Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali. Perjalanan dari Marwah kembali ke Shafa dihitung satu kali berikutnya. Begitu seterusnya hingga berjumlah tujuh kali.
Karena dimulai dari Shafa, maka perjalanan ketujuh akan berakhir di Marwah. Pemahaman ini sangat penting agar jemaah tidak keliru mengira bahwa satu putaran harus kembali ke tempat awal. Dalam sa’i, setiap perjalanan antara dua bukit dihitung satu kali.
Bacaan Saat Mendekati Bukit Shafa
Setelah selesai tawaf dan menuju Shafa, jemaah dianjurkan membaca ayat yang menyebut Shafa dan Marwah sebagai bagian dari syiar Allah. Bacaan ini menjadi pengingat bahwa sa’i dilakukan bukan karena tradisi semata, tetapi karena perintah ibadah.
Bacaan ini biasanya dibaca ketika jemaah mulai mendekati Shafa. Jika belum hafal, jemaah dapat membaca melalui buku panduan atau mengikuti bimbingan pembimbing ibadah.
Bacaan Ayat Shafa dan Marwah
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
Innas shafaa wal marwata min syaa’irillah.
Artinya: Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk sebagian dari syiar Allah.
Bacaan ini mengingatkan bahwa sa’i memiliki dasar dalam ajaran Islam. Jemaah yang membacanya diharapkan lebih menyadari bahwa setiap langkah yang dilakukan antara Shafa dan Marwah merupakan bagian dari ibadah kepada Allah.
Bacaan Memulai dari Shafa
Setelah membaca ayat tersebut, sebagian jemaah juga membaca kalimat berikut.
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
Nabda’u bimaa bada’allahu bih.
Artinya: Kami memulai dengan apa yang Allah mulai.
Bacaan ini menunjukkan bahwa sa’i dimulai dari Shafa, sebagaimana penyebutan Shafa didahulukan sebelum Marwah dalam ayat. Setelah itu, jemaah dapat naik atau mendekat ke area Shafa, menghadap kiblat, lalu berdzikir dan berdoa.
Tata Cara Sai dari Shafa ke Marwah
Setelah berada di Shafa, jemaah mulai melaksanakan sa’i. Tata cara ini perlu dilakukan dengan tertib, mulai dari menghadap kiblat di Shafa, membaca dzikir, berdoa, lalu berjalan menuju Marwah.
Jemaah tidak perlu terburu buru. Sa’i dapat dilakukan dengan berjalan biasa sesuai kemampuan. Bagi jemaah lanjut usia, sakit, atau memiliki keterbatasan fisik, dapat menggunakan fasilitas yang tersedia sesuai ketentuan.
Menghadap Kiblat dan Berdoa di Shafa
Saat berada di Shafa, jemaah dianjurkan menghadap kiblat, mengangkat tangan, lalu membaca takbir, tahlil, dan doa. Bacaan yang sering diamalkan adalah sebagai berikut.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.
Kemudian membaca tahlil dan pujian kepada Allah. Setelah itu, jemaah dapat memanjatkan doa sesuai kebutuhan. Doa boleh disampaikan dalam bahasa Arab atau bahasa yang dipahami, selama isinya baik.
Berjalan Menuju Marwah sebagai Hitungan Pertama
Setelah berdoa di Shafa, jemaah mulai berjalan menuju Marwah. Perjalanan dari Shafa ke Marwah ini dihitung sebagai perjalanan pertama. Sepanjang perjalanan, jemaah dianjurkan memperbanyak dzikir, istighfar, shalawat, dan doa.
Tidak ada bacaan wajib khusus di sepanjang jalur sa’i. Karena itu, jemaah tidak perlu khawatir jika belum hafal banyak doa. Bacaan yang paling utama adalah dzikir dan doa yang dibaca dengan hati hadir.

Bacaan dan Amalan di Antara Tanda Hijau
Di jalur sa’i terdapat area yang ditandai dengan lampu atau tanda hijau. Pada bagian ini, laki laki disunnahkan berlari kecil sesuai kemampuan, sedangkan perempuan tetap berjalan biasa. Sunnah ini mengikuti tuntunan dalam pelaksanaan sa’i.
Meski disunnahkan bagi laki laki, berlari kecil tidak boleh dilakukan dengan cara yang membahayakan diri sendiri atau mengganggu jemaah lain. Jika area sangat padat, keselamatan dan ketertiban tetap harus dijaga.
Doa yang Bisa Dibaca Saat Berlari Kecil
Saat berada di antara dua tanda hijau, jemaah dapat membaca doa singkat berikut.
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، إِنَّكَ أَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
Rabbighfir warham, innaka antal a’azzul akram.
Artinya: Ya Tuhanku, ampunilah dan rahmatilah. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia.
Doa ini mudah dibaca dan dapat diulang sepanjang area tanda hijau. Jika tidak hafal, jemaah tetap dapat membaca doa lain, istighfar, atau dzikir yang dikuasai.
Perempuan Tidak Disunnahkan Berlari Kecil
Dalam pelaksanaan sa’i, perempuan tidak disunnahkan berlari kecil di antara tanda hijau. Perempuan tetap berjalan seperti biasa dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya.
Ketentuan ini memberi kemudahan dan menjaga ketertiban dalam ibadah. Bagi semua jemaah, baik laki laki maupun perempuan, yang paling penting adalah menyelesaikan tujuh perjalanan dengan tertib dan penuh kesadaran ibadah.
Tata Cara Saat Tiba di Marwah
Setelah sampai di Marwah, berarti jemaah telah menyelesaikan satu perjalanan. Di Marwah, jemaah melakukan hal yang mirip dengan yang dilakukan di Shafa, yaitu menghadap kiblat, berdzikir, dan berdoa.
Setelah itu, jemaah melanjutkan perjalanan kedua dari Marwah kembali menuju Shafa. Perjalanan ini dihitung sebagai hitungan kedua, bukan pelengkap dari hitungan pertama.
Menghadap Kiblat dan Mengulang Dzikir
Saat tiba di Marwah, jemaah dianjurkan menghadap kiblat. Bacaan takbir, tahlil, dan doa dapat diulang sebagaimana ketika berada di Shafa. Setelah itu, jemaah memohon kepada Allah sesuai hajat masing masing.
Doa di Shafa dan Marwah menjadi kesempatan penting bagi jemaah untuk memohon ampunan, kebaikan keluarga, kesehatan, rezeki halal, dan kelancaran ibadah. Tidak ada batasan doa selama isinya baik.
Kembali ke Shafa sebagai Hitungan Kedua
Setelah selesai berdoa di Marwah, jemaah berjalan kembali ke Shafa. Perjalanan dari Marwah ke Shafa dihitung sebagai perjalanan kedua. Dengan demikian, setiap perpindahan dari satu bukit ke bukit lainnya dihitung satu kali.
Hitungan ini harus terus diperhatikan hingga mencapai tujuh perjalanan. Jika khawatir lupa, jemaah dapat menggunakan alat penghitung, mengikuti pembimbing, atau mengingat bahwa sa’i akan berakhir di Marwah.
Urutan Tujuh Kali Perjalanan Sai
Agar tidak bingung, jemaah perlu memahami urutan lengkap tujuh perjalanan sa’i. Karena sa’i dimulai dari Shafa dan setiap perjalanan dihitung satu kali, maka posisi akhir sa’i selalu berada di Marwah.
Pemahaman ini sangat membantu terutama bagi jemaah yang baru pertama kali menjalankan umrah atau haji. Kesalahan hitungan dapat membuat sa’i harus dilengkapi kembali.
Rincian Hitungan Sai
Urutan tujuh kali perjalanan sa’i adalah sebagai berikut.
- Shafa ke Marwah dihitung satu
- Marwah ke Shafa dihitung dua
- Shafa ke Marwah dihitung tiga
- Marwah ke Shafa dihitung empat
- Shafa ke Marwah dihitung lima
- Marwah ke Shafa dihitung enam
- Shafa ke Marwah dihitung tujuh
Dengan urutan ini, jemaah akan menyelesaikan sa’i di Marwah. Setelah itu, jemaah dapat melanjutkan ke tahalul sesuai tata cara yang berlaku.
Jika Ragu dengan Hitungan Sai
Jika jemaah ragu apakah sudah enam atau tujuh kali, maka sebaiknya mengambil jumlah yang lebih kecil dan melengkapi kekurangannya. Sikap hati hati ini lebih aman agar sa’i tidak kurang dari tujuh perjalanan.
Namun, jika jemaah yakin telah menyelesaikan tujuh perjalanan, maka tidak perlu menambah karena keraguan yang datang setelah selesai ibadah tidak selalu harus diikuti. Dalam keadaan bingung, jemaah dapat bertanya kepada pembimbing ibadah yang mendampingi.

Bacaan yang Dianjurkan Selama Sai
Selama sa’i, jemaah tidak dibatasi pada satu bacaan tertentu. Ibadah ini dapat diisi dengan berbagai dzikir dan doa. Hal ini memberi keleluasaan bagi jemaah yang belum hafal doa panjang.
Yang perlu dijaga adalah kesungguhan hati. Sa’i jangan hanya dipahami sebagai berjalan dari satu titik ke titik lain, tetapi sebagai waktu untuk memperbanyak doa dan mengingat Allah.
Dzikir yang Mudah Dibaca
Jemaah dapat membaca dzikir yang mudah dihafal, seperti subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, Allahu akbar, dan astaghfirullah. Bacaan ini dapat diulang sepanjang perjalanan.
Selain itu, jemaah juga dapat memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dzikir yang dibaca dengan tenang dapat membantu menjaga kekhusyukan di tengah keramaian jalur sa’i.
Doa dengan Bahasa Sendiri
Jemaah boleh berdoa dengan bahasa sendiri selama isi doanya baik. Misalnya memohon ampunan, keselamatan keluarga, kesehatan, kemudahan ibadah, rezeki yang halal, dan husnul khatimah.
Bagi sebagian jemaah, berdoa dengan bahasa yang dipahami membuat hati lebih hadir. Hal ini diperbolehkan karena inti doa adalah permohonan kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.
Tahalul Setelah Sai Selesai
Setelah sa’i selesai tujuh kali dan berakhir di Marwah, jemaah melanjutkan tahalul. Tahalul menjadi tanda keluar dari keadaan ihram, terutama dalam pelaksanaan umrah. Setelah tahalul, larangan ihram yang sebelumnya berlaku menjadi selesai.
Tahalul dilakukan dengan mencukur atau memotong rambut. Tata caranya berbeda antara laki laki dan perempuan, tetapi keduanya sama sama menjadi bagian penting setelah sa’i.
Cara Tahalul untuk Laki Laki
Bagi laki laki, tahalul dapat dilakukan dengan mencukur habis rambut kepala atau memendekkannya. Mencukur habis sering disebut lebih utama, tetapi memendekkan rambut juga diperbolehkan.
Jika memilih memendekkan rambut, sebaiknya dilakukan secara merata pada bagian kepala, bukan hanya mengambil beberapa helai rambut secara asal. Hal ini menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan tahalul sebagai bagian dari ibadah.
Cara Tahalul untuk Perempuan
Bagi perempuan, tahalul dilakukan dengan memotong sedikit ujung rambut. Umumnya, rambut dikumpulkan lalu dipotong sekitar satu ruas jari atau secukupnya. Perempuan tidak mencukur habis rambut kepala.
Setelah tahalul dilakukan, jemaah perempuan juga keluar dari keadaan ihram. Dengan demikian, rangkaian umrah telah selesai jika sebelumnya sudah melaksanakan ihram, tawaf, sa’i, dan tahalul dengan benar.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Sai
Dalam pelaksanaan sa’i, ada beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi. Kesalahan ini biasanya muncul karena kurang memahami urutan, terlalu mengikuti keramaian, atau tidak memperhatikan hitungan perjalanan.
Mengetahui kesalahan tersebut penting agar jemaah dapat lebih hati hati. Dengan pemahaman yang cukup, ibadah sa’i dapat dijalankan lebih tertib dan tenang.
Memulai Sai dari Marwah
Sa’i harus dimulai dari Shafa. Jika seseorang memulai dari Marwah, maka hitungan tersebut tidak dianggap sebagai awal yang benar. Karena itu, jemaah harus memastikan posisi awalnya adalah Shafa.
Kesalahan ini sering terjadi pada jemaah yang belum mengenal area atau terlalu mengikuti arus orang. Jika ragu, bertanyalah kepada petugas atau pembimbing sebelum memulai.
Salah Menghitung Perjalanan
Kesalahan lain adalah mengira Shafa ke Marwah lalu kembali ke Shafa baru dihitung satu. Padahal, Shafa ke Marwah sudah dihitung satu, dan Marwah ke Shafa dihitung dua.
Pemahaman hitungan ini harus diingat sejak awal. Jika tidak, jemaah bisa melakukan perjalanan lebih banyak dari yang diperlukan atau justru berhenti sebelum sempurna tujuh kali.
Menganggap Bacaan Tertentu Wajib
Sebagian jemaah merasa cemas karena belum hafal doa panjang saat sa’i. Padahal, tidak ada bacaan khusus yang menjadi syarat sah di sepanjang perjalanan antara Shafa dan Marwah.
Jemaah tetap dapat berdzikir, membaca doa pendek, atau berdoa dengan bahasa sendiri. Yang penting adalah menjaga adab, kesungguhan, dan tidak mengganggu jemaah lain.
Adab Saat Melaksanakan Sai
Sa’i dilakukan di tempat yang ramai, terutama pada musim haji dan waktu umrah padat. Karena itu, jemaah perlu menjaga adab agar ibadah berjalan tertib dan tidak merugikan orang lain.
Adab dalam sa’i mencakup cara berjalan, menjaga lisan, menghormati jemaah lain, dan tidak memaksakan diri ketika kondisi fisik tidak memungkinkan.
Tidak Mendorong atau Menghalangi Jemaah Lain
Dalam keramaian, jemaah harus menjaga langkah agar tidak mendorong, menyerobot, atau menghalangi orang lain. Sa’i adalah ibadah, sehingga sikap santun tetap harus dijaga walaupun suasana padat.
Jika berjalan bersama rombongan, jangan memenuhi jalur secara berlebihan. Berikan ruang bagi jemaah lain, terutama lansia, pengguna kursi roda, dan orang yang berjalan lebih lambat.
Menjaga Fokus dan Kekhusyukan
Saat sa’i, sebaiknya jemaah tidak terlalu sibuk dengan hal yang tidak perlu. Gunakan waktu untuk dzikir, doa, dan merenungi perjuangan Siti Hajar. Percakapan yang tidak penting sebaiknya dikurangi agar hati tetap terarah pada ibadah.
Kekhusyukan tidak berarti harus menangis atau terlihat sangat serius sepanjang waktu. Kekhusyukan dapat hadir melalui kesadaran bahwa setiap langkah dilakukan karena Allah dan mengikuti tuntunan ibadah yang telah diajarkan.
Sa’i dimulai dari Shafa, berakhir di Marwah, dilakukan tujuh kali perjalanan, diisi dengan dzikir dan doa, lalu dilanjutkan tahalul sebagai tanda selesainya keadaan ihram.