Home SosokSosok Ferry Irwandi : Dari Birokrat ke Aktivis Digital yang Menentang Arus

Sosok Ferry Irwandi : Dari Birokrat ke Aktivis Digital yang Menentang Arus

by Admin Radar
0 comments

Nama Ferry Irwandi kini menjadi sorotan publik Indonesia. Bukan hanya karena keberaniannya dalam menyuarakan kritik, tetapi juga karena perjalanannya yang unik: dari seorang Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Keuangan menjadi sosok YouTuber, aktivis digital, dan intelektual publik. Ferry hadir dengan wajah baru bagi generasi muda yang merindukan suara kritis, rasional, dan berani di tengah derasnya arus informasi dangkal.


Latar Belakang dan Pendidikan Ferry

Ferry Irwandi lahir di Jambi pada 16 Desember 1991 dari keluarga Minangkabau perantau asal Payakumbuh. Sejak kecil ia dikenal cerdas dan penuh semangat. Ayahnya seorang dosen, ibunya pegawai negeri. Dukungan keluarga membuatnya menekuni pendidikan dengan serius.

Pendidikan tinggi dimulainya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dengan jurusan Kebendaharaan Negara. Selama kuliah, Ferry tidak hanya fokus pada akademik. Ia aktif di dunia seni, bergabung dalam klub teater serta komunitas film kreatif bernama SCENE. Dari sinilah kecintaannya pada seni visual dan penyampaian pesan lewat media audio-visual semakin berkembang.

Setelah menyelesaikan studi di STAN, ia melanjutkan pendidikan S2 di Central Queensland University, Australia. Pengalaman belajar di luar negeri memperluas perspektifnya, membentuk pola pikir yang lebih global, dan memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan adalah kunci perubahan sosial.

“Pondasi akademik di STAN dan pelajarannya di luar negeri membuat Ferry bukan sekadar kritikus, tapi pembicara yang teredukasi dan terlatih.”


Karier sebagai PNS dan Peralihan ke Dunia Digital

Lulus dari STAN, Ferry langsung mengabdi sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Keuangan. Di sana ia bekerja sebagai videografer dan juga bertugas di bagian hubungan masyarakat. Selama kurang lebih 10 tahun, Ferry belajar banyak tentang birokrasi, dinamika keuangan negara, hingga celah-celah kelemahan sistem.

Namun, panggilan hatinya berbeda. Pada November 2022, ia memutuskan mengundurkan diri dari status PNS dan fokus sepenuhnya menjadi konten kreator. Keputusan ini berani, karena meninggalkan zona nyaman dengan gaji dan jaminan negara. Tetapi Ferry merasa, di ruang publik digital, ia bisa berbicara lebih lantang dan menjangkau audiens lebih luas.

Kanal YouTube-nya sebenarnya sudah eksis sejak 2010. Namun baru setelah 2020-an, terutama setelah tampil di podcast Close The Door milik Deddy Corbuzier pada April 2022, popularitas Ferry meroket. Kini, kanal YouTube-nya memiliki lebih dari 1,8 juta subscribers dengan total views mencapai lebih dari 152 juta.


Stoikisme: Falsafah Hidup yang Membentuk Sikap Ferry

Sejak tahun 2017, Ferry mendalami filsafat Stoikisme. Baginya, Stoikisme bukan sekadar bahan diskusi, tetapi kerangka hidup. Stoikisme mengajarkan untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan dan merelakan yang di luar kuasa manusia.

Ferry bahkan membahas Stoikisme di konten YouTube-nya, menjelaskan bagaimana filsafat ini membantunya menjaga ketenangan di tengah tekanan sosial, kritik, hingga serangan digital. Stoikisme juga membuatnya berani mengambil langkah berisiko, seperti mundur dari PNS dan melawan sistem yang dianggapnya tidak adil.

“Stoikisme bukan tentang menghilangkan ambisi, tapi tentang menata ulang ambisi supaya tidak menjerat diri dalam tekanan tanpa makna.”


Inspirasi dari Tan Malaka

Ferry tak hanya berhenti pada Stoikisme. Ia juga mengaku banyak terinspirasi oleh Tan Malaka, sosok revolusioner dan pemikir besar Indonesia. Bahkan, nama Malaka Project yang ia dirikan adalah penghormatan kepada Tan Malaka.

Ferry menekankan pentingnya berpikir rasional, sebagaimana yang diajarkan Tan Malaka dalam karya Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Ia menentang “logika mistis” yang masih bercokol di masyarakat. Hal ini terlihat jelas ketika Ferry pernah menantang dukun santet secara terbuka di YouTube, sebuah aksi simbolis untuk melawan irasionalitas.

Ferry juga mengutip pesan Tan Malaka:

“Orang terpelajar seharusnya memiliki kesadaran sosial untuk berkontribusi kembali kepada masyarakat, mengingat semua yang telah diberikan masyarakat untuk kita.”


Malaka Project: Gerakan Intelektual Baru

Pada 20 Oktober 2023, Ferry meluncurkan Malaka Project. Bukan sekadar kanal YouTube, proyek ini menjadi wadah edukasi, diskusi, dan pemberdayaan generasi muda.

Para pendiri Malaka Project terdiri dari sembilan tokoh dengan latar belakang berbeda:

  • Ferry Irwandi
  • Dea Anugrah
  • Cania Citta
  • Jerome Polin
  • Angellie Nabila
  • Coki Pardede
  • Aurelia Vizal
  • Fathia Izzati
  • Rifky Adi Prakoso

Mereka menghadirkan berbagai program, mulai dari Kelas Pakar (mengundang narasumber ahli untuk membahas tema mendalam), podcast dan diskusi panel, hingga program beasiswa seperti kerja sama dengan Kapal Api.

Lebih jauh lagi, Malaka Project kini berambisi membentuk Institut Malaka, sebuah perguruan tinggi rakyat yang interdisipliner, murah, dan terbuka. Kampus ini dirancang sebagai ruang pertemuan seniman, aktivis, petani, dan akademisi untuk membangun pendidikan alternatif menuju Indonesia Emas 2045.

“Malaka Project bukan hanya soal konten, ini adalah laboratorium pemikiran yang menjadi saksi bahwa pendidikan sejati lahir dari kecerdasan, empati, dan keberanian berbicara bersama.”


Melawan Sistem Korupsi di Indonesia

Ferry dikenal lantang menentang korupsi. Ia mengkritik UU Kejaksaan 2021 yang memberi imunitas kepada jaksa, sehingga hanya bisa diproses hukum jika ada izin Jaksa Agung. Baginya, pasal ini membuka peluang penyalahgunaan wewenang dan tirani hukum. Ia menyinggung kasus jaksa di Batubara yang hanya dimutasi meski melakukan pemerasan, serta kasus Pinangki yang memperlihatkan lemahnya pengawasan internal.

Selain itu, Ferry pernah membela Tom Lembong, mantan Menteri Perdagangan, yang divonis 4,5 tahun penjara terkait impor gula. Menurutnya, kasus tersebut sarat muatan politik dan kriminalisasi, karena tidak ada bukti aliran dana. Ferry menilai vonis itu hanyalah cara menghukum karena perbedaan pilihan politik.

Dalam bidang pendidikan, Ferry menekankan pentingnya melawan korupsi sejak dini. Ia percaya pendidikan yang kuat dan pemerataan akses akan melahirkan generasi berintegritas. Ia juga mendorong anak muda untuk aktif membuat konten positif, agar narasi edukatif mampu menandingi arus konten negatif di media sosial.

“Ferry Irwandi tidak hanya bicara soal perlawanan, tapi ia mengejawantahkan aksi melalui kritik tajam, edukasi, dan pembelaan moral, itulah esensi melawan sistem korup di Indonesia.”


Aktivisme Digital dan Dampak Sosial

Ferry sering berada di garis depan perdebatan publik. Salah satu momen besar adalah ketika ia diduga ikut menggagalkan wacana status darurat militer lewat orasi di demo 31 Agustus 2025. Aksinya membuatnya jadi sasaran teror digital. Namun Ferry tetap konsisten bersuara.

Tak hanya itu, ia pernah menggelar live YouTube menantang dukun santet, menjanjikan hadiah mobil Alphard bagi yang bisa menyantetnya. Live itu justru menghasilkan donasi Rp36 juta, yang kemudian ia arahkan untuk beasiswa mahasiswa kurang mampu. Aksi ini mencerminkan perpaduan antara keberanian, edukasi, dan kepedulian sosial.


Pengaruh dan Popularitas di Era Digital

Dengan 1,8 juta subscriber di YouTube, jutaan pengikut di Instagram dan X, Ferry Irwandi menjadi salah satu figur publik yang paling berpengaruh di ranah digital. Bedanya, ia tidak menjual sensasi semata, melainkan menghadirkan konten edukasi yang dikemas dengan gaya segar dan dekat dengan audiens muda.

Keterlibatannya di Malaka Project bersama tokoh lain memperluas pengaruhnya. Ia menjadi suara yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan.

“Ferry tidak hanya bicara, ia menyisipkan ilmu di balik kritiknya, dan itu yang membuat suaranya relevan di tengah arus informasi yang sering dangkal.” – menurut Rajajago

You may also like

Leave a Comment