Table of Contents
Fenomena perubahan tingkah laku seseorang menjelang kematian telah lama menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Tidak jarang keluarga merasa heran ketika orang terdekat yang sebelumnya berperilaku normal, mendadak kembali bertingkah layaknya anak-anak. Gejala ini sering dikaitkan dengan pertanda ajal yang semakin dekat. Dalam tradisi Islam, tanda-tanda kematian memang kerap dibahas oleh para ulama, dan fenomena perilaku kekanak-kanakan pun dianggap bagian dari isyarat Ilahi.
Sebagai media Islami, menarik bagi kita untuk menelusuri makna fenomena ini, baik dari sisi medis, psikologis, maupun spiritual.
Perubahan Perilaku Menjelang Kematian
Seseorang yang berada di akhir hayatnya kerap menunjukkan perubahan signifikan, baik dari sisi fisik maupun psikis. Ada yang tiba-tiba menjadi pendiam, ada yang lebih religius, bahkan ada pula yang berubah seperti anak kecil. Perubahan tersebut bukanlah tanpa alasan. Dalam dunia medis, menjelang kematian tubuh manusia mengalami proses penurunan fungsi organ secara perlahan. Penurunan ini berpengaruh pada otak sehingga memengaruhi sikap dan perilaku.
Namun dalam perspektif masyarakat muslim, perubahan tingkah laku sering ditafsirkan sebagai tanda yang dikirim Allah agar keluarga lebih siap menghadapi perpisahan.
“Sebagai penulis, saya melihat fenomena ini bukan semata-mata gejala medis, tetapi juga tanda kasih sayang Allah. Perubahan sikap bisa jadi jalan agar keluarga lebih mudah merelakan,” ungkap saya dalam hati ketika menuliskan artikel ini.
Fenomena Kembali Menjadi Anak-Anak
Tingkah laku kembali seperti anak-anak menjelang ajal dapat ditandai dengan beberapa sikap, seperti merengek, sering meminta perhatian, bersikap manja, hingga berbicara dengan cara sederhana. Ada pula yang mendadak suka bermain dengan hal-hal kecil, sama seperti masa kanak-kanak. Fenomena ini dalam psikologi disebut regresi, yaitu kondisi ketika seseorang kembali ke fase perkembangan sebelumnya akibat tekanan besar.
Dalam Islam, regresi sering dipandang sebagai tanda kerendahan hati seorang hamba yang hendak kembali ke pangkuan Sang Khalik. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang manusia yang dikembalikan ke usia pikun, “Supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulu pernah diketahuinya” (QS. An-Nahl: 70). Ayat ini menunjukkan bahwa menjelang kematian, akal dan perilaku bisa mengalami kemunduran.
Pandangan Ulama dan Hadis tentang Pertanda Ajal
Para ulama klasik maupun kontemporer banyak membahas tanda-tanda orang menjelang wafat. Imam al-Ghazali menuliskan bahwa salah satu tanda dekatnya ajal adalah perubahan tabiat yang tidak biasa. Ada yang menjadi sangat lembut, ada yang seperti anak-anak, ada pula yang terlihat kehilangan minat terhadap dunia. Semua ini menjadi isyarat bahwa ruh sedang dipersiapkan untuk kembali kepada Allah.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari no. 1358, Muslim no. 2658)
Hadis ini menegaskan bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka ketika ada orang yang menjelang wafat berperilaku seperti anak-anak, bisa dipahami sebagai tanda ia dikembalikan pada fitrah oleh Allah.
“Saya pribadi percaya bahwa kembalinya seseorang ke perilaku anak-anak adalah bentuk fitrah. Allah sedang mengembalikan mereka ke keadaan suci, sebagaimana ketika manusia dilahirkan,” tulis saya sebagai penegasan iman.
Perspektif Medis dan Hadis tentang Kelemahan Manusia
Dari sudut pandang medis, perubahan sikap tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah. Menjelang ajal, beberapa bagian otak, khususnya yang mengatur fungsi kognitif, mengalami penurunan. Hal ini membuat seseorang lebih sulit mengendalikan emosi, lebih mudah menangis, atau mencari perhatian. Dalam psikologi, ini disebut fase terminal, di mana manusia berada pada titik akhir kehidupannya dan menghadapi rasa takut yang besar. Untuk mengurangi kecemasan, otak secara otomatis kembali ke fase aman, yaitu masa kanak-kanak.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah ﷺ pernah berdoa:
اللَّهُمَّ مَتِّعْنِي بِسَمْعِي وَبَصَرِي وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي
“Ya Allah, berilah aku kenikmatan pada pendengaranku dan penglihatanku, jadikan keduanya tetap ada hingga aku wafat.”
(HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai hasan)
Doa ini menunjukkan bahwa kelemahan pada pendengaran, penglihatan, bahkan akal sering datang di usia senja. Maka tidak aneh bila seseorang menjelang ajal kembali berperilaku seperti anak-anak.
Kasus-Kasus di Masyarakat
Banyak kisah di tengah masyarakat yang menceritakan orang tua menjelang wafat tiba-tiba manja layaknya anak kecil. Misalnya, seorang kakek yang berulang kali meminta dibelikan permen, atau seorang nenek yang minta ditemani tidur seperti anak kecil. Keluarga sering mengira hal ini hanya keanehan sesaat, padahal dalam hitungan hari, sang kakek atau nenek meninggal dunia.
Cerita-cerita semacam ini sudah turun-temurun diyakini masyarakat sebagai pertanda ajal. Fenomena ini menumbuhkan keyakinan bahwa Allah memang memberikan sinyal agar keluarga lebih siap menghadapi kepergian.
Tradisi Jawa dan Hadis tentang Usia Panjang
Dalam tradisi Jawa, orang yang kembali bertingkah laku seperti anak-anak menjelang ajal sering disebut ngalami “tandha-tandha mati”. Masyarakat menafsirkan bahwa orang tersebut sedang ditarik kembali ke masa polos sebelum menuju keabadian. Meski tradisi ini bukan dalil syar’i, nilai kearifan lokal tersebut memperkuat rasa ikhlas keluarga.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ، حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً
“Allah telah memberikan uzur kepada seseorang yang diberi umur panjang hingga enam puluh tahun.”
(HR. Bukhari no. 6419)
Hadis ini mengisyaratkan bahwa usia panjang sering diiringi kelemahan, kepikunan, dan hilangnya daya ingat, sehingga perilaku kembali menyerupai anak-anak adalah hal wajar menjelang ajal.
Peran Keluarga Saat Menghadapi Fenomena Ini
Keluarga memiliki peran besar dalam menyikapi perubahan sikap ini. Daripada merasa heran atau jengkel, lebih baik memandang fenomena ini sebagai momen untuk lebih sabar. Seseorang yang berperilaku seperti anak-anak menjelang ajal sebenarnya sedang memerlukan dukungan, kasih sayang, dan ketenangan. Tugas keluarga adalah memenuhi kebutuhannya dengan penuh cinta.
“Saya merasa, keluarga harus bisa menahan emosi. Jangan marah ketika orang tua merengek seperti anak kecil. Bisa jadi itu momen terakhir mereka meminta kasih sayang sebelum berpulang,” ungkap saya secara pribadi.
Hikmah di Balik Perubahan Tingkah Laku
Fenomena berubah menjadi kekanak-kanakan menjelang kematian menyimpan banyak hikmah. Pertama, hal ini mengajarkan keluarga untuk lebih sabar. Kedua, menjadi pengingat bahwa hidup manusia akan kembali ke titik nol, dari bayi hingga kembali seperti bayi. Ketiga, menjadi tanda agar manusia tidak terlalu sombong dengan kepandaian dan usia, sebab pada akhirnya semua akan melemah.
Dalam Islam, setiap tanda menjelang kematian harus dipandang sebagai peringatan. Allah mengingatkan kita agar selalu siap, karena ajal bisa datang kapan saja. Dengan memahami fenomena ini, diharapkan umat Islam lebih sadar bahwa dunia hanyalah sementara.