Table of Contents
Sejak akhir Agustus 2025 publik diramaikan oleh kabar menghilangnya tiga orang pasca demonstrasi besar di Jakarta. Laporan ini berawal dari keluarga korban dan lembaga HAM yang menyebut ketiga orang itu tak kunjung pulang sejak 30–31 Agustus, tepat setelah kericuhan demonstrasi terjadi. Tuduhan pun bermunculan, bahwa ada indikasi mereka dihilangkan negara. Namun, fakta terbaru tentang ditemukannya salah satu dari mereka dalam kondisi aman, justru menimbulkan pertanyaan baru. Apakah kasus ini benar penghilangan paksa atau hanya miskomunikasi yang terlanjur menjadi isu besar?
Siapa Tiga Orang yang Dinyatakan Hilang
Nama tiga orang yang ramai disebut hilang adalah Bima Permana Putra, Muhammad Farhan Hamid, dan Reno Syaputradewo. Menurut laporan awal, mereka tak bisa dihubungi keluarga sejak 31 Agustus 2025. Kejadian ini menguat karena dua dari mereka terakhir diketahui berada di sekitar lokasi aparat keamanan, tepatnya Brimob Kwitang, Jakarta Pusat.
Yang membuat kasus ini semakin menyita perhatian adalah keberadaan Bima. Ia bukan bagian dari demonstrasi, melainkan seorang pemuda biasa yang belakangan diketahui mencari penghidupan dengan berdagang. Fakta ini membuat publik semakin bertanya: bagaimana mungkin seseorang yang tidak terlibat aksi justru ikut hilang pada hari yang sama dengan aksi besar-besaran?
Reaksi Cepat Lembaga HAM dan DPR
Kabar hilangnya tiga orang ini segera ditanggapi serius oleh organisasi HAM seperti KontraS, Amnesty International, hingga Asia Justice and Rights. Mereka menyebut kasus ini bisa masuk kategori enforced disappearance atau penghilangan paksa, yang dalam hukum internasional termasuk pelanggaran HAM berat.
DPR lewat Komisi XIII juga ikut menyoroti. Beberapa anggota menegaskan bahwa negara tidak boleh menutup mata dan harus segera mencari ketiga orang tersebut. Bahkan, posko pengaduan orang hilang dibuka di Polda Metro Jaya untuk menampung laporan masyarakat. Dorongan investigasi independen pun menguat karena publik tidak ingin kasus ini sekadar menjadi kabar burung.
Sikap Pemerintah: Jangan Tergesa Menyebut Hilang
Menteri HAM Natalius Pigai mengambil sikap hati-hati. Ia menyebut, jangan buru-buru menyebut hilang atau dihilangkan, karena faktanya belum tentu mengarah ke sana. Menurutnya, dalam suasana pasca demo yang penuh ketegangan, ada kemungkinan seseorang memilih bersembunyi atau menyingkir sementara. Kementerian HAM bahkan menurunkan tim untuk menyelidiki langsung laporan keluarga dan mengumpulkan fakta di lapangan.
Namun, sikap pemerintah ini justru menimbulkan kecurigaan. Bagi sebagian aktivis, pernyataan “jangan buru-buru” dianggap cara meredam isu. Padahal keluarga sudah menanti kepastian dengan perasaan cemas dan sakit hati.
Tidak ada yang lebih menyiksa daripada menunggu kabar dengan hati penuh was-was, sementara negara terkesan lamban memberi kejelasan.
Fakta Terbaru: Bima Ditemukan di Malang
Ketegangan publik sedikit mereda ketika polisi mengumumkan bahwa salah satu dari tiga orang yang hilang, yakni Bima Permana Putra, sudah ditemukan. Lokasinya mengejutkan: ia berada di Malang, Jawa Timur, sedang berdagang mainan barongsai.
Menurut keterangan polisi, Bima ditemukan pada 17 September 2025 pukul 13.55 WIB. Ia sempat menjual sepeda motor di Tegal, lalu melanjutkan perjalanan ke Malang dengan kereta api, dan kemudian tinggal di sebuah hotel sebelum berdagang mainan. Polisi menyebut Bima aman dan kini dalam penanganan lebih lanjut.

Namun publik justru makin bingung. Bagaimana mungkin seseorang yang dilaporkan hilang oleh keluarganya tiba-tiba muncul dengan cerita “jualan mainan”? Apakah sejak awal ia memang tidak hilang, atau ada pihak yang sengaja menutup informasi hingga akhirnya diumumkan dengan narasi berbeda?
Dua Orang Masih Hilang: Farhan dan Reno
Berbeda dengan Bima, dua nama lain masih misterius: Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syaputradewo. Reno dilaporkan hilang sejak 30 Agustus, sedangkan Farhan terakhir diketahui berada di sekitar Brimob Kwitang, Jakarta Pusat. Hingga kini, tidak ada informasi resmi mengenai keberadaan mereka.
Keluarga masih menanti kabar, sementara lembaga HAM terus menekan agar negara tidak berhenti pada penemuan Bima saja. Sebab, menemukan satu orang bukan berarti masalah selesai. Justru harus ada transparansi lebih besar untuk dua orang yang masih belum ditemukan.
Narasi yang Saling Bertabrakan
Munculnya fakta bahwa Bima ternyata berdagang di Malang menciptakan dua narasi besar yang saling bertentangan.
- Narasi Hilang Paksa: Lembaga HAM tetap menilai hilangnya tiga orang ini tidak bisa dilepaskan dari konteks demonstrasi dan penanganan aparat. Bagi mereka, sekadar menemukan Bima tidak menutup kemungkinan adanya pelanggaran HAM.
- Narasi Hilang Sukarela: Negara, khususnya polisi, menekankan bahwa Bima tidak hilang. Ia hanya sedang melakukan aktivitas sendiri dan kebetulan tidak bisa dihubungi. Narasi ini membuat sebagian publik menilai laporan lembaga HAM berlebihan dan cenderung menggiring opini untuk mendiskreditkan negara.
Perbedaan narasi ini menimbulkan perpecahan di masyarakat. Ada yang percaya bahwa penghilangan paksa masih terjadi di Indonesia, ada pula yang menilai isu ini hanyalah framing yang dibesar-besarkan.
Sejarah Kelam Membayangi
Indonesia punya sejarah panjang terkait kasus penghilangan paksa. Dari tragedi 1965, Tanjung Priok, Talangsari, hingga hilangnya 13 aktivis pro-demokrasi pada 1997–1998, semuanya menjadi trauma kolektif bangsa. Fakta ini membuat masyarakat cepat sensitif ketika ada kabar orang hilang, terutama setelah aksi unjuk rasa.
Kecurigaan publik tak bisa disalahkan sepenuhnya, sebab negara pernah tercatat melakukan hal serupa di masa lalu. Karena itu, setiap laporan hilang akan selalu dipandang serius, bahkan meskipun hasil akhirnya ternyata berbeda dengan dugaan awal.
Keluarga Korban dalam Ketidakpastian
Di balik narasi besar dan perdebatan publik, ada keluarga yang hatinya remuk. Mereka yang menanti kabar anak, saudara, atau kerabat, hidup dalam ketidakpastian. Hilang beberapa hari saja sudah cukup menyiksa, apalagi berminggu-minggu tanpa kejelasan.
Hilang bukan sekadar tidak terlihat, tapi juga hilangnya rasa tenang, hilangnya tidur, dan hilangnya rasa percaya pada sistem yang seharusnya melindungi.
Opini Publik Terbelah
Kehadiran Bima di Malang membawa efek domino: sebagian publik menganggap tuduhan awal hanyalah sensasi, sementara sebagian lain merasa justru ada yang janggal. Media sosial dipenuhi komentar bernada sinis, saling tuduh, hingga saling serang antar kelompok.
- Kelompok pro pemerintah menuding lembaga HAM sengaja membesar-besarkan isu.
- Kelompok pro HAM menilai narasi “jualan mainan” hanyalah alasan untuk menutupi pelanggaran.
Polarisasi ini berbahaya karena mengalihkan fokus utama: memastikan keselamatan dan hak dua orang yang benar-benar masih belum ditemukan.
Pentingnya Transparansi Negara
Apapun narasi yang berkembang, negara tetap punya tanggung jawab besar. Negara harus transparan dalam memberikan informasi, bukan sekadar menenangkan dengan kata-kata. Publik butuh bukti, keluarga butuh kepastian.
Jika memang Bima aman sejak awal, kenapa informasi itu tidak segera disampaikan kepada keluarga? Jika memang Farhan dan Reno masih dalam pencarian, sejauh mana upaya itu dilakukan? Transparansi semacam ini sangat penting agar tidak menimbulkan fitnah dan kecurigaan berlebihan.
Ancaman Framing dan Bahaya Perpecahan
Isu hilangnya orang bisa dengan mudah menjadi bahan framing politik. Tuduhan bahwa ada penghilangan paksa bisa melemahkan kepercayaan pada negara, sementara narasi bahwa korban “jualan mainan” bisa melemahkan kepercayaan pada lembaga HAM.
Kedua narasi ini bisa sama-sama berbahaya bila tidak disertai data kuat. Bila publik hanya dijejali dua pilihan ekstrem, maka ruang dialog akan tertutup, dan yang tersisa hanyalah saling curiga.
Jika kebenaran tidak diungkap secara jujur, maka yang hilang bukan hanya tiga orang, tapi juga kepercayaan masyarakat kepada negaranya.
Menanti Jawaban untuk Farhan dan Reno
Hingga kini, keberadaan Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syaputradewo masih menjadi misteri. Keluarga masih menanti, masyarakat masih bertanya, dan publik masih menuntut jawaban. Kasus ini belum selesai.
Bima mungkin sudah ditemukan, tetapi kisahnya menimbulkan luka baru: bagaimana mungkin seseorang yang dikabarkan hilang justru muncul dengan narasi yang membingungkan? Pertanyaan ini belum dijawab tuntas. Sementara itu, dua nama lain tetap tak jelas rimbanya.