Table of Contents
Di balik keramaian kota besar, restoran cepat saji, dan pusat belanja yang selalu dipenuhi pengunjung, tersimpan kisah getir yang jarang terlihat mata. Kisah itu bukan tentang makanan enak yang menggugah selera, melainkan tentang sisa makanan yang dibuang, diambil kembali, dimasak ulang, lalu disantap oleh orang miskin demi bertahan hidup. Fenomena itu dikenal dengan nama pagpag, sebuah istilah dari Filipina yang kini menjadi simbol betapa dalamnya jurang kemiskinan di negeri tersebut. Bagi banyak keluarga miskin di Manila dan sekitarnya, pagpag bukan sekadar pilihan, tetapi jalan terakhir agar perut tidak kosong.
Sejarah Pagpag: Lahir dari Kemiskinan dan Kelaparan
Pagpag tidak muncul begitu saja. Akar sejarahnya panjang dan erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi Filipina. Istilah ini berawal dari bahasa Tagalog yang berarti mengibaskan atau membersihkan. Dalam konteks kuliner, makna itu berubah menjadi makanan sisa yang dibersihkan, dimasak ulang, lalu dikonsumsi kembali.
Fenomena ini mulai terlihat sejak dekade 1960-an ketika kemiskinan di kota-kota besar Filipina semakin akut. Pada masa itu banyak penduduk desa pindah ke Manila untuk mencari pekerjaan. Namun, kota tidak mampu menyediakan lapangan kerja cukup. Akibatnya banyak yang hidup di permukiman kumuh di dekat tempat pembuangan sampah. Dari sanalah praktik mengumpulkan sisa makanan restoran muncul, awalnya untuk kebutuhan keluarga, lalu berkembang menjadi sistem ekonomi informal yang melibatkan pemulung, penjual, hingga konsumen.
Perkembangan pagpag kemudian semakin meluas pada awal 2000-an saat media mulai meliput kehidupan masyarakat miskin Manila. Gambar dan kisah tentang orang-orang yang mengais sisa ayam goreng atau burger dari tempat sampah restoran cepat saji menjadi sorotan publik dunia. Bagi sebagian orang, pagpag adalah aib nasional. Namun, bagi mereka yang tidak mampu membeli beras dan lauk segar, pagpag adalah satu-satunya harapan.

Mengapa Pagpag Bisa Ada
Kemunculan pagpag bukan kebetulan, melainkan akibat dari akumulasi masalah sosial yang menahun. Pertama, kemiskinan ekstrem membuat keluarga tidak sanggup membeli makanan bergizi. Banyak keluarga hanya memiliki penghasilan harian yang bahkan tidak cukup untuk membeli lauk sederhana. Kedua, harga bahan pokok yang terus naik menambah beban hidup. Bagi masyarakat berpendapatan rendah, makanan segar dianggap mewah.
Faktor ketiga adalah urbanisasi yang tidak terkendali. Ribuan orang pindah ke kota setiap tahun tanpa jaminan pekerjaan tetap. Mereka terjebak di kawasan kumuh dengan akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi. Situasi itu memperkuat praktik pagpag karena restoran cepat saji yang banyak berdiri di kota menjadi sumber makanan alternatif.
Selain itu, kurangnya program bantuan sosial yang merata juga berperan. Bantuan pemerintah tidak selalu menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Akibatnya, masyarakat miskin mengandalkan apa saja yang tersedia di sekitar mereka, termasuk sisa makanan yang sudah dibuang.
“Saya merasa pagpag lahir dari ketidakadilan sosial. Bukan karena orang ingin makan sisa, tetapi karena mereka tidak diberi pilihan lain.”
Bagaimana Pagpag Diproses
Bagi yang belum pernah melihat, pagpag mungkin terdengar menjijikkan. Namun prosesnya cukup sistematis. Pertama, pemulung mencari sisa makanan di tempat sampah restoran cepat saji setelah jam operasional selesai. Dari sana mereka mengambil potongan ayam, daging burger, atau nasi yang masih terlihat bisa dimakan.
Langkah berikutnya adalah membersihkan. Bagian yang rusak atau berbau busuk dibuang. Potongan yang masih bisa diselamatkan dicuci dan direbus untuk membunuh bakteri. Setelah itu makanan digoreng ulang atau dimasak dengan bumbu sederhana. Ada yang menumis dengan sayuran murah, ada juga yang membuatnya menjadi sup.
Hasil akhirnya tampak seperti masakan rumahan biasa. Pagpag kemudian dikonsumsi langsung oleh keluarga atau dijual dengan harga murah di warung kecil di kawasan kumuh. Inilah yang membuatnya begitu populer di kalangan miskin kota karena harganya jauh lebih rendah dibandingkan membeli lauk segar.
- Penjemputan / Pengumpulan: Pemulung atau orang-orang yang melakukan kegiatan ini pergi ke restoran cepat saji, kios makan, supermarket, saat atau setelah waktu tutup. Mereka mencari makanan yang masih layak dibersihkan. Makanan kadang dari tempat pembuangan atau dumpster restoran yang tidak dikunci/ditutup rapat.
- Seleksi: Setelah dikumpulkan, bagian yang terlalu rusak atau baunya sudah sangat buruk dibuang. Bagian yang masih relatif utuh yang bisa dibersihkan dijadikan bahan baku.
- Pembersihan: Menghilangkan debu, kotoran, terkadang cuci dengan air bersih jika ada; kemudian direbus terlebih dahulu untuk membunuh bakteri atau patogen sebanyak mungkin.
- Pengolahan Kembali: Setelah direbus, sering digoreng kedua kali atau dimasak dengan bumbu, sayur, atau saus agar rasanya lebih baik dan juga untuk menutupi bau/tanda kerusakan. Proses memasak ulang ini juga bertujuan agar makanan lebih aman dikonsumsi.
- Penjualan / Konsumsi: Ada yang memasak sendiri untuk konsumsi keluarga; ada pula yang dijual kembali kepada orang miskin lainnya sebagai lauk murah. Harga sangat murah dibanding makanan segar.
Dampak Kesehatan
Meski pagpag menjadi penyelamat perut lapar, dampak kesehatannya tidak bisa diabaikan. Makanan yang sudah lama terbuang sangat mungkin mengandung bakteri berbahaya seperti E. coli atau Salmonella. Risiko keracunan makanan, diare, tifus, hingga penyakit pencernaan kronis sangat tinggi. Anak-anak dan ibu hamil adalah kelompok yang paling rentan.
Selain itu, kandungan gizi pagpag jelas jauh dari standar makanan sehat. Meski bisa memberi protein, sebagian besar vitamin dan mineral sudah hilang karena penyimpanan yang buruk dan proses pengolahan berulang. Mengonsumsi pagpag dalam jangka panjang dapat memperburuk status gizi dan membuat tubuh semakin rentan terhadap penyakit.
“Kalau melihat hasil akhirnya, mungkin tampak seperti lauk sederhana. Tetapi membayangkan prosesnya membuat saya pribadi tidak sanggup untuk mencicipinya.”
Data Kemiskinan dan Kelaparan di Filipina
Untuk memahami mengapa pagpag bertahan hingga kini, penting melihat angka kemiskinan di Filipina. Berdasarkan laporan resmi tahun 2023, sekitar 18 persen penduduk Filipina masih hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Angka ini setara dengan lebih dari 19 juta orang yang setiap hari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan.
Selain itu, Indeks Kelaparan Global menempatkan Filipina dalam kategori sedang tetapi tetap memprihatinkan. Sekitar 5 dari 10 anak di wilayah miskin mengalami malnutrisi kronis. Data UNICEF mencatat bahwa jutaan anak di Filipina menderita stunting akibat kekurangan gizi jangka panjang. Kondisi ini memperlihatkan bahwa masalah bukan sekadar kurangnya makanan, melainkan distribusi dan keterjangkauan.
Tingkat inflasi pangan juga berpengaruh. Pada tahun 2024, harga beras dan daging di Filipina mengalami kenaikan signifikan. Hal ini membuat keluarga berpendapatan rendah semakin sulit membeli bahan pokok. Tidak heran jika sebagian masyarakat tetap bergantung pada alternatif murah seperti pagpag.
Pagpag sebagai Potret Ketimpangan
Lebih dari sekadar makanan, pagpag adalah simbol jurang ketimpangan yang menganga. Di satu sisi, restoran cepat saji membuang makanan berlebih setiap hari. Di sisi lain, ada keluarga yang rela mengais sisa-sisa itu demi bertahan hidup. Kontras ini memperlihatkan betapa seriusnya masalah distribusi kesejahteraan di Filipina.
Bagi banyak peneliti sosial, pagpag menjadi indikator jelas bahwa sistem ekonomi belum berjalan adil. Selama masih ada orang yang menggantungkan hidup pada makanan dari tempat sampah, artinya ada kelompok masyarakat yang tidak mendapat akses terhadap kebutuhan paling dasar.
Respon Pemerintah dan Organisasi Sosial
Pemerintah Filipina beberapa kali mencoba melarang peredaran pagpag, terutama karena alasan kesehatan. Namun larangan itu sering tidak efektif. Tanpa solusi nyata untuk mengatasi kemiskinan, masyarakat tetap kembali pada praktik ini.
Organisasi sosial dan lembaga keagamaan berupaya membantu dengan membuka dapur umum, memberi bantuan makanan, dan menjalankan program pemberdayaan ekonomi. Meski demikian, jangkauannya terbatas dan tidak selalu menjangkau seluruh komunitas miskin.
Di tingkat internasional, pagpag sempat menjadi perhatian setelah berbagai media meliputnya. Sorotan dunia membuat fenomena ini semakin dikenal, namun solusi nyata untuk menghapus pagpag belum sepenuhnya terwujud.
Pagpag dalam Perspektif Budaya
Meski lahir dari keterpaksaan, pagpag perlahan juga menjadi bagian dari diskusi budaya populer Filipina. Ada dokumenter yang menggambarkan kehidupan keluarga yang sehari-hari memasak pagpag dengan cara kreatif. Ada pula cerita tentang penjual yang bisa menghasilkan sedikit keuntungan dari menjualnya kembali.
Namun berbeda dengan makanan tradisional lain yang menjadi kebanggaan, pagpag lebih sering dipandang sebagai aib nasional. Bagi banyak warga Filipina, keberadaan pagpag menjadi pengingat keras tentang kemiskinan yang belum teratasi.
Apakah Pagpag Masih Ada di Tahun Ini
Hingga tahun 2025, pagpag masih ada dan masih dikonsumsi oleh masyarakat miskin di kawasan kumuh Manila serta beberapa kota besar lain. Inflasi, kenaikan harga bahan pokok, dan ketidakpastian ekonomi membuat praktik ini tidak bisa dihapus begitu saja. Bahkan, belakangan pagpag kembali menjadi viral di media sosial setelah ada video yang menampilkan proses pengolahannya.

Meskipun pemerintah dan organisasi sosial terus berusaha memberi bantuan pangan, kenyataannya banyak keluarga masih mengandalkan pagpag sebagai sumber makanan harian. Situasi ini memperlihatkan bahwa solusi yang ada belum cukup menyentuh akar masalah, yaitu kemiskinan struktural dan ketidakadilan ekonomi.
“Melihat pagpag masih ada di tahun ini membuat saya sadar, masalah kelaparan bukan hanya soal kurangnya makanan, tetapi soal bagaimana sistem gagal mendistribusikan dengan adil.”
Mengapa Pagpag Bertahan meski banyak resikonya ?
Ada beberapa alasan mengapa pagpag masih bertahan hingga sekarang. Pertama, kemiskinan tetap menjadi masalah utama. Banyak keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan sehingga pagpag adalah satu-satunya pilihan murah. Kedua, harga bahan makanan yang terus naik membuat makanan segar sulit dijangkau. Ketiga, program bantuan sosial pemerintah tidak selalu tepat sasaran dan sering kali tidak mencakup semua yang membutuhkan.
Selain itu, bagi sebagian komunitas, pagpag sudah menjadi bagian dari cara bertahan hidup yang diwariskan. Ada yang menganggapnya sebagai kebiasaan, meski sebenarnya lahir dari keterpaksaan. Selama kondisi sosial ekonomi tidak berubah, pagpag akan terus bertahan.
Pelajaran dari Pagpag agar tidak terjadi di Indonesia
Fenomena pagpag memberi banyak pelajaran. Pertama, bahwa ketahanan manusia bisa mendorong mereka melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Kedua, bahwa ketidakadilan sosial dapat melahirkan situasi ekstrem di mana makanan sisa menjadi satu-satunya pilihan. Ketiga, bahwa masalah pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga distribusi yang adil.
Pagpag adalah cermin dari dunia yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, ada makanan berlimpah yang dibuang. Di sisi lain, ada keluarga yang berjuang hidup dari sisa-sisa itu. Selama kesenjangan sosial masih ada, pagpag akan terus menjadi kisah nyata di balik wajah modern Filipina.
“Saya melihat pagpag bukan hanya tentang makanan. Ini adalah kisah tentang manusia yang menolak menyerah, meski dunia seakan tidak memberi mereka kesempatan.”