Table of Contents
Mengenal Hari Asyura, Keistimewaan 10 Muharram yang Penuh Pelajaran Hari Asyura yang diperingati setiap 10 Muharram menjadi salah satu hari istimewa dalam kalender Islam. Umat Muslim mengenalnya melalui anjuran puasa sunnah, kisah keselamatan Nabi Musa dari kezaliman Firaun, serta berbagai pelajaran tentang rasa syukur, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.
Asyura tidak dirayakan dengan pesta atau kegiatan berlebihan. Hari tersebut lebih dekat dengan ibadah, perenungan, memperbanyak amal saleh, serta mengingat pertolongan Allah kepada para hamba yang beriman.
Ibadah yang paling kuat landasannya pada hari tersebut adalah puasa. Rasulullah menjalankan puasa Asyura dan menganjurkan para sahabat untuk melakukannya. Setelah puasa Ramadan diwajibkan, hukum puasa Asyura menjadi sunnah.
Keutamaan yang dijanjikan sangat besar. Puasa Asyura menjadi sebab dihapusnya dosa setahun sebelumnya. Namun, pengampunan tersebut tidak boleh membuat seseorang meremehkan dosa, menunda tobat, atau merasa bebas melakukan pelanggaran.
Asyura Berasal dari Kata Sepuluh
Sebutan Asyura berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan bilangan sepuluh. Nama tersebut merujuk pada hari kesepuluh dalam bulan Muharram.
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini juga termasuk satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam bersama Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab.
Penyebutan bulan haram menunjukkan adanya kehormatan khusus yang harus dijaga. Umat Islam dianjurkan memperbanyak ketaatan serta menjauhkan diri dari kezaliman dan perbuatan dosa.
Hari Asyura berada di dalam bulan yang mulia tersebut. Karena itu, anjuran berpuasa pada 10 Muharram tidak berdiri sendiri, tetapi berada dalam suasana ibadah yang kuat sepanjang Muharram.
Rasulullah menyebut puasa pada bulan Muharram sebagai puasa yang paling utama setelah Ramadan. Umat Islam dapat memperbanyak puasa sunnah selama mampu tanpa menganggap seluruh hari sebagai kewajiban.
Kisah Nabi Musa Menjadi Dasar Penting
Salah satu riwayat paling kuat tentang Asyura berhubungan dengan Nabi Musa dan Bani Israil. Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut.
Mereka menjelaskan bahwa 10 Muharram merupakan hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari Firaun. Sebagai bentuk syukur, Nabi Musa berpuasa.
Rasulullah kemudian menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa. Beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat menjalankannya.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa puasa Asyura bukan sekadar kebiasaan tahunan. Ibadah itu menjadi ungkapan rasa syukur atas pertolongan Allah kepada orang beriman yang menghadapi kezaliman.
Firaun memiliki kekuasaan besar, tentara, dan kemampuan menindas rakyat. Namun, seluruh kekuatan itu tidak mampu menghalangi keputusan Allah untuk menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil.
Laut Terbelah dan Firaun Ditenggelamkan
Nabi Musa membawa Bani Israil meninggalkan Mesir setelah mengalami penindasan. Firaun dan pasukannya mengejar hingga rombongan Nabi Musa tiba di tepi laut.
Di belakang mereka terdapat tentara Firaun. Di hadapan mereka terbentang lautan. Sebagian pengikut Nabi Musa mulai merasa takut karena jalan keluar tidak terlihat.
Nabi Musa tetap yakin bahwa Allah akan memberikan petunjuk. Atas perintah Allah, beliau memukulkan tongkatnya ke laut. Laut kemudian terbelah dan menyediakan jalan yang dapat dilewati.
Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil menyeberang. Firaun beserta pasukannya mencoba mengikuti, tetapi air kembali menutup dan menenggelamkan mereka.
Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah dapat datang melalui cara yang tidak diperkirakan manusia. Seorang Muslim tetap diperintahkan berusaha sambil menjaga keyakinan kepada Allah.
“Hari Asyura mengingatkan bahwa kekuasaan yang dibangun dengan kezaliman dapat runtuh, sedangkan keteguhan orang beriman tidak pernah sia sia di hadapan Allah.”
Puasa Asyura Menghapus Dosa Setahun
Keutamaan puasa Asyura dijelaskan dalam hadis sahih riwayat Muslim. Rasulullah menyampaikan harapan kepada Allah agar puasa pada hari tersebut menghapus dosa setahun sebelumnya.
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang telah lalu.”
Para ulama menjelaskan bahwa dosa yang dimaksud terutama adalah dosa kecil. Adapun dosa besar membutuhkan tobat yang sungguh sungguh, penyesalan, berhenti dari perbuatan tersebut, dan tekad tidak mengulanginya.
Jika dosa berkaitan dengan hak orang lain, pelakunya juga harus mengembalikan hak atau meminta maaf. Puasa sunnah tidak dapat digunakan untuk menghindari tanggung jawab kepada sesama manusia.
Keutamaan penghapusan dosa menunjukkan luasnya kasih sayang Allah. Ibadah satu hari diberikan balasan yang besar, tetapi harus dijalankan dengan niat ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah.
Hukum Puasa Asyura Adalah Sunnah
Puasa Asyura pernah diperintahkan kepada umat Islam sebelum puasa Ramadan diwajibkan. Setelah kewajiban Ramadan turun, pelaksanaan Asyura menjadi pilihan sunnah.
Artinya, orang yang menjalankannya memperoleh pahala, sedangkan yang meninggalkannya tidak berdosa. Tidak boleh ada paksaan atau penilaian buruk kepada Muslim yang tidak berpuasa.
Seseorang mungkin memiliki alasan kesehatan, sedang dalam perjalanan, hamil, menyusui, lanjut usia, atau menghadapi kondisi lain yang membuat puasa sulit dilakukan.
Orang yang tidak berpuasa masih dapat mengisi Asyura dengan ibadah lain. Membaca Al Quran, berzikir, berdoa, bersedekah, membantu keluarga, dan memperbaiki hubungan dengan sesama termasuk perbuatan baik.
Keutamaan Asyura seharusnya mendorong semangat beribadah, bukan menjadi alasan saling menyalahkan.
Puasa Tasu’a Dilakukan pada 9 Muharram
Selain puasa pada 10 Muharram, umat Islam dianjurkan berpuasa pada 9 Muharram yang dikenal sebagai puasa Tasu’a.
Anjuran tersebut berkaitan dengan keinginan Rasulullah untuk berpuasa pada hari kesembilan apabila masih hidup pada tahun berikutnya. Namun, beliau wafat sebelum datangnya Muharram berikutnya.
Para ulama memahami keinginan tersebut sebagai dasar anjuran menggabungkan puasa 9 dan 10 Muharram.
Pelaksanaan dua hari juga menjadi pembeda dengan kebiasaan kelompok lain yang pada masa itu hanya menjalankan puasa pada 10 Muharram.
Urutan yang banyak dilakukan adalah puasa Tasu’a pada 9 Muharram lalu puasa Asyura pada 10 Muharram. Seseorang yang hanya mampu berpuasa pada hari kesepuluh tetap memperoleh keutamaan Asyura.
Bolehkah Berpuasa pada 10 Muharram Saja
Sebagian orang tidak dapat menjalankan puasa Tasu’a karena terlambat mengetahui tanggal, mempunyai kesibukan, atau menghadapi kondisi tertentu. Mereka kemudian bertanya apakah puasa pada 10 Muharram saja diperbolehkan.
Para ulama pada umumnya membolehkan puasa Asyura satu hari. Puasa tersebut tetap sah dan memiliki dasar yang kuat dari hadis.
Menggabungkan 9 dan 10 Muharram dinilai lebih baik karena mengikuti keinginan Rasulullah. Pilihan lain yang dibahas ulama adalah berpuasa pada 10 dan 11 Muharram.
Ada pula pendapat yang menyebut susunan tiga hari, yaitu 9, 10, dan 11 Muharram, sebagai bentuk yang lebih lengkap. Namun, umat tidak perlu mempersulit diri apabila hanya mampu menjalankan satu atau dua hari.
Hal yang paling penting adalah tidak meninggalkan puasa Asyura hanya karena tidak sempat berpuasa pada hari sebelumnya.
Niat Puasa Tidak Harus Dilafalkan
Niat merupakan bagian penting dalam ibadah. Letaknya di dalam hati dan menunjukkan kesadaran seseorang untuk berpuasa karena Allah.
Tidak ada kewajiban melafalkan niat dalam bahasa Arab. Seseorang yang sejak malam telah berniat bangun sahur dan berpuasa Asyura pada esok hari sudah memiliki niat.
Sebagian masyarakat tetap membaca lafaz niat sebagai sarana membantu hati. Hal itu dapat dilakukan selama tidak dianggap sebagai syarat sah yang wajib diucapkan.
Salah satu lafaz yang biasa digunakan adalah sebagai berikut.
“Saya berniat puasa Asyura karena Allah Taala.”
Karena Asyura merupakan puasa sunnah, niat masih dapat dilakukan pada pagi hari selama seseorang belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan sejak terbit fajar.
Tata Cara Puasa Sama dengan Puasa Sunnah Lain
Pelaksanaan puasa Asyura dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Selama waktu tersebut, orang yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan hal lain yang membatalkan.
Sahur dianjurkan meskipun hanya dengan air. Sahur membantu tubuh memperoleh energi dan menjadi ibadah yang memiliki keberkahan.
Berbuka dilakukan ketika matahari telah terbenam. Menyegerakan berbuka termasuk sunnah selama waktu Magrib sudah masuk.
Selama puasa, seseorang juga perlu menjaga ucapan dan perilaku. Berbohong, mencela, bertengkar, menyebarkan fitnah, serta menyakiti orang lain dapat mengurangi nilai ibadah.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Pengendalian diri menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaannya.
Tabel Amalan pada Hari Asyura
| Amalan | Keterangan |
|---|---|
| Puasa Tasu’a | Dilaksanakan pada 9 Muharram |
| Puasa Asyura | Dilaksanakan pada 10 Muharram |
| Puasa tambahan | Dapat menambahkan 11 Muharram |
| Membaca Al Quran | Dilakukan sesuai kemampuan |
| Berzikir | Memperbanyak ingat kepada Allah |
| Berdoa | Memohon ampunan dan kebaikan |
| Bersedekah | Membantu orang yang membutuhkan |
| Menjaga keluarga | Memberi perhatian dan nafkah dengan baik |
| Bertobat | Menyesali dosa dan memperbaiki diri |
| Menjaga hubungan | Menghindari permusuhan dan saling memaafkan |
Sedekah dan Membantu Keluarga
Selain puasa, masyarakat di berbagai daerah mengisi Asyura dengan berbagi makanan, menyantuni anak yatim, dan membantu keluarga kurang mampu.
Perbuatan tersebut pada dasarnya termasuk amal baik yang dapat dilakukan kapan saja. Muharram dapat menjadi pendorong untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Namun, umat perlu berhati hati ketika menyebut suatu keutamaan khusus. Tidak semua riwayat yang beredar tentang sedekah Asyura memiliki tingkat kesahihan yang sama.
Sedekah tetap dianjurkan berdasarkan dalil umum. Nilainya tidak berkurang hanya karena tidak dikaitkan dengan janji tertentu yang belum jelas sumbernya.
Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa juga termasuk amal yang baik. Kegiatan dapat dilakukan tanpa berlebihan dan tanpa menjadikannya ajang pamer.
Santunan Anak Yatim Harus Dilakukan dengan Bermartabat
Tradisi menyantuni anak yatim sering dilakukan menjelang atau pada 10 Muharram. Kegiatan ini dapat menjadi sarana membantu kebutuhan pendidikan, makanan, pakaian, dan kesehatan anak.
Islam memang memberikan perhatian besar kepada anak yatim. Namun, kepedulian sebaiknya tidak berhenti pada satu hari dalam setahun.
Anak membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Biaya sekolah, tempat tinggal yang aman, perlindungan, dan pendampingan emosional jauh lebih penting daripada acara seremonial sesaat.
Penyelenggara juga perlu menjaga martabat penerima. Anak tidak seharusnya dipaksa tampil, difoto secara berlebihan, atau diperlakukan sebagai alat promosi.
Bantuan dapat diberikan secara tertib dengan melibatkan wali atau lembaga terpercaya. Data pribadi anak harus tetap dijaga.
Bubur Asyura Menjadi Tradisi di Berbagai Daerah
Sejumlah masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan memasak bubur Asyura. Bahan dan cara pengolahannya berbeda di setiap daerah.
Ada bubur yang dibuat dari beras, kacang, jagung, santan, sayuran, daging, serta rempah. Setelah matang, makanan dibagikan kepada tetangga, jamaah masjid, dan warga sekitar.
Tradisi tersebut dapat memperkuat kebersamaan selama tidak dianggap sebagai ibadah wajib atau ketentuan agama yang harus dilakukan.
Makanan hanyalah sarana berbagi. Tidak ada jenis hidangan tertentu yang diwajibkan pada hari Asyura.
Keluarga yang tidak memasak bubur tidak kehilangan keutamaan puasa. Sebaliknya, orang yang memasak tetapi meninggalkan ibadah utama perlu kembali melihat prioritasnya.
Asyura Juga Mengingatkan Tragedi Karbala
Tanggal 10 Muharram juga dikenal sebagai hari wafatnya Husain bin Ali, cucu Rasulullah, dalam peristiwa Karbala pada 61 H.
Peristiwa tersebut menjadi luka besar dalam sejarah umat Islam. Husain bersama keluarga dan pengikutnya terbunuh dalam pertentangan politik yang terjadi setelah masa Khulafaur Rasyidin.
Umat Islam mencintai keluarga Rasulullah dan menghormati Husain sebagai cucu beliau. Mengenang Karbala dapat dilakukan dengan mempelajari sejarah, mendoakan kebaikan, serta mengambil pelajaran dari keberanian dan keteguhan.
Namun, dasar puasa Asyura telah ada sebelum peristiwa Karbala. Rasulullah telah menjalankan puasa tersebut ketika berada di Madinah.
Karena itu, puasa Asyura tidak bermula dari wafatnya Husain. Keduanya terjadi pada tanggal yang sama, tetapi memiliki dasar pembahasan yang berbeda.
Tidak Diajarkan Melukai Diri
Sebagian peringatan Asyura di berbagai tempat disertai tindakan memukul atau melukai tubuh sebagai ekspresi kesedihan atas Karbala.
Islam tidak mengajarkan seseorang menyakiti diri sebagai bentuk ibadah. Tubuh merupakan amanah yang harus dijaga.
Kesedihan kepada keluarga Rasulullah dapat disampaikan melalui doa, pembelajaran sejarah, sedekah, dan perbuatan baik.
Perbedaan tradisi di antara kelompok Muslim juga harus disikapi dengan pengetahuan dan ketenangan. Umat tidak perlu memperbesar permusuhan atau menggunakan Asyura sebagai alasan saling menghina.
Hari yang mulia seharusnya mendekatkan seseorang kepada Allah serta memperbaiki perilakunya terhadap manusia.
Keutamaan Tidak Menghapus Kewajiban Bertobat
Janji penghapusan dosa setahun sebelumnya sering dipahami secara terlalu sederhana. Sebagian orang mengira satu hari puasa cukup untuk menghapus seluruh pelanggaran tanpa tobat.
Para ulama menjelaskan bahwa dosa besar memerlukan tobat khusus. Seseorang tidak dapat terus melakukan korupsi, zina, riba, kezaliman, atau mengambil hak orang lain lalu merasa aman hanya karena berpuasa Asyura.
Tobat menuntut penyesalan, meninggalkan dosa, dan berjanji tidak mengulanginya. Hak manusia yang diambil juga harus dikembalikan.
Puasa Asyura menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan kesalahan kecil. Ibadah tersebut seharusnya membuat seseorang semakin takut berbuat dosa, bukan semakin berani melanggarnya.
“Keutamaan Asyura akan terasa dalam kehidupan ketika puasa diikuti kejujuran, tobat, dan kesediaan memperbaiki hubungan dengan orang lain.”
Orang Sakit Tidak Perlu Memaksakan Diri
Puasa Asyura bersifat sunnah sehingga orang yang sakit tidak perlu memaksakan diri. Keselamatan tubuh harus diperhatikan.
Penderita diabetes, gangguan ginjal, penyakit lambung berat, atau kondisi lain sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa.
Orang yang sedang mengonsumsi obat pada jadwal tertentu juga perlu memastikan apakah waktunya dapat diubah dengan aman.
Ibu hamil dan menyusui dapat mempertimbangkan kondisi dirinya serta anak. Apabila terdapat kekhawatiran kesehatan, meninggalkan puasa sunnah tidak menimbulkan dosa.
Allah tidak membebani hamba di luar kemampuannya. Niat baik tetap dapat diwujudkan melalui ibadah lain yang tidak mengganggu kesehatan.
Perbedaan Penetapan Tanggal Perlu Dihormati
Kalender Hijriah bergantung pada perhitungan dan penetapan awal bulan. Di Indonesia, perbedaan metode dapat menyebabkan 1 Muharram ditetapkan pada hari yang berbeda.
Ada lembaga yang menggunakan hisab, sedangkan pihak lain menjadikan rukyat sebagai dasar penetapan. Perbedaan awal bulan kemudian memengaruhi tanggal 9 dan 10 Muharram.
Umat Islam dapat mengikuti keputusan pemerintah, organisasi keagamaan, atau lembaga yang selama ini menjadi rujukannya.
Perbedaan satu hari tidak seharusnya menimbulkan pertengkaran. Kedua pihak sama sama berusaha menetapkan waktu ibadah berdasarkan metode yang diyakini.
Masyarakat juga perlu berhati hati menyebarkan jadwal melalui media sosial. Cantumkan sumber agar pembaca mengetahui dasar tanggal yang digunakan.
Asyura Menumbuhkan Syukur dan Keteguhan
Kisah Nabi Musa memperlihatkan bahwa rasa syukur tidak hanya disampaikan melalui ucapan. Beliau menjalankan ibadah sebagai ungkapan atas keselamatan yang diberikan Allah.
Umat Islam dapat mengikuti semangat tersebut dengan menjadikan Asyura sebagai waktu memperkuat hubungan kepada Allah.
Kesulitan hidup tidak selalu langsung berakhir. Nabi Musa juga melewati perjalanan panjang sebelum memperoleh keselamatan.
Keteguhan, usaha, doa, dan keyakinan berjalan bersama. Orang beriman tidak pasif menunggu pertolongan, tetapi tetap bergerak mengikuti petunjuk Allah.
Asyura memberi kesempatan tahunan untuk menilai kembali cara seseorang menghadapi kesulitan, menggunakan kekuasaan, memperlakukan orang lemah, dan mensyukuri nikmat.
Hari Asyura Bukan Sekadar Tanggal Tahunan
Peringatan 10 Muharram memiliki nilai kuat apabila diterjemahkan menjadi perubahan sikap. Puasa melatih pengendalian diri, kisah Nabi Musa mengajarkan keberanian melawan kezaliman, sedangkan Karbala mengingatkan mahalnya harga keteguhan.
Umat Islam dapat memulai hari dengan sahur, menjaga salat, memperbanyak doa, serta menahan diri dari ucapan buruk.
Waktu berbuka dapat digunakan untuk makan bersama keluarga atau berbagi kepada tetangga. Orang tua juga dapat menceritakan kisah Nabi Musa kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami.
Masjid dan lembaga pendidikan dapat mengadakan kajian yang memakai sumber terpercaya. Riwayat yang tidak jelas perlu dipisahkan dari hadis sahih agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar.
Hari Asyura akhirnya menjadi kesempatan untuk menggabungkan ibadah pribadi, pembelajaran sejarah, kepedulian sosial, serta pembenahan diri. Keutamaannya tidak berhenti ketika matahari terbenam pada 10 Muharram, tetapi dapat terlihat dari perubahan perilaku yang dibawa seseorang setelah menjalankan puasa.